Home / Uncategorized

Minggu, 23 April 2023 - 00:01 WIB

Cerita Pohon Tertua di Dunia yang Simpan Rahasia Bumi

Pada satu hutan di Chile bagian selatan, suatu pohon raksasa telah bertahan selama ribuan tahun dan kini tengah menjalani proses untuk mendapat status

Pada satu hutan di Chile bagian selatan, suatu pohon raksasa telah bertahan selama ribuan tahun dan kini tengah menjalani proses untuk mendapat status "pohon tertua di dunia". Dikenal sebagai "Kakek Buyut", batang pohon tertua ini diameternya mencapai empat meter dan tinggi hingga 28 meter. Pohon ini juga diyakini menyimpan rahasia bagaimana bumi beradaptasi terhadap perubahan iklim. Baca artikel CNN Indonesia "Cerita Pohon Tertua di Dunia yang Simpan Rahasia Bumi" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20230422182031-199-941007/cerita-pohon-tertua-di-dunia-yang-simpan-rahasia-bumi. Download Apps CNN Indonesia sekarang https://app.cnnindonesia.com/

JAKARTA. LANDAKNEWS.ID – Pada satu hutan di Chile bagian selatan, suatu pohon raksasa telah bertahan selama ribuan tahun dan kini tengah menjalani proses untuk mendapat status “pohon tertua di dunia”.
Dikenal sebagai “Kakek Buyut”, batang pohon tertua ini diameternya mencapai empat meter dan tinggi hingga 28 meter.

Pohon ini juga diyakini menyimpan rahasia bagaimana bumi beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Jika proses itu selesai, pohon yang diyakini berusia lebih dari lima ribu tahun ini akan menggantikan Methuselah sebagai pohon tertua. Methuselah sendiri merupakan pohon jenis Pinus longaeva berusia 4.850 tahun yang ditemukan di California, Amerika Serikat

“Pohon ini adalah penyintas, dan tak ada apapun yang pernah punya kesempatan hidup selama ini,” kata Antonio Lara, seorang peneliti di Universitas Austral. Lara juga jadi salah seorang anggota tim pengukur usia pohon.

“Kakek Buyut” hidup di tepi jurang di satu hutan di bagian selatan wilayah Los Rios, 800 km dari ibu kota Chile, Santiago.

Pohon ini merupakan spesies endemik di benua Amerika Selatan, serta spesies pohon terbesar di wilayah itu.

Ia hidup berdampingan dengan spesies penghuni pohon seperti katak Darwin, kadal, dan burung-burung seperti elang Chile atau chucao tapaculo.

Baca juga  Polsek Amankan Rapat Konsolidasi Partai PDI Perjuangan

Selama berabad-abad, cabang dan ranting jenis pohon ini acap kali ditebang untuk jadi bahan bangunan rumah atau kapal, serta menjadi komoditas berharga di abad ke-19 dan 20.

Ditemukan pada 1972
Dalam beberapa tahun terakhir, pohon ini mulai banyak dikunjungi wisatawan yang ingin berfoto bersama “pohon tertua di dunia”. Mereka harus berjalan kaki sejam untuk mencapai “Kakek Buyut”.

Karena kian populer, pengelola taman nasional harus meningkatkan jumlah petugas dan juga membatasi akses untuk melindungi pohon tersebut.

Sebagai perbandingan, lokasi Methuselah disembunyikan oleh pihak berwenang.

Pohon ini pertama kali ditemukan oleh seorang petugas taman nasional, Anibal Henriquez, pdaa 1972.

Kini keponakan Henrique, Jonathan Barichivich menjadi salah satu peneliti pohon tersebut.

Pada 2020, Barichivich dan Lara berhasil mengambil sampel dari dalam Kakek Buyut menggunakan bor yang paling panjang. Namun, ujung bor tak sampai menyentuh pusat batang pohon.

Menggunakan sampel tersebut, mereka semula memperkirakan bahwa pohon tersebut berusia 21 tahun.

Namun, pemodelan matematis yang menghitung umur pasti pohon menunjukkan bahwa usia pohon bisa mencapai 5 ribu tahun.

Ia berharap bisa segera merilis hasil penelitian tersebut.

Studi yang dilakukan Barichivich disambut hangat oleh kelompok ilmuwan lainnya.

Simbol Perlawanan
Menghitung usia pasti Kakek Buyut bukan soal kompetisi pohon tertua. Tapi juga mendapatkan sumber informasi berharga mengenai bumi.

Baca juga  Tingkatkan Kemampuan Prajurit, Danrindam XII/Tpr Buka Lomba Menembak Piala Pangdam

“Ada banyak alasan sehingga hal ini sangat bermakna, dan mengapa pohon ini harus dilindungi,” kata Lara.

Di bumi, hanya ada sedikit pohon yang berusia ribuan tahun.

“Pohon-pohon bersejarah ini memiliki gen dan juga sejarah tentang perlawanan dan adaptasi. Mereka adalah atlet terbaik alam ini,” kata Barichivich.

“Mereka seperti buku yang tengah terbuka dan kita sebagai orang yang membaca setiap lingkaran (batangnya),” kata Carmen Gloria Rodriguez, asisten peneliti di laboraturium Universitas Austral.

“Lembaran-lembaran” buku pohon itu menunjukkan musim kemarau dan musim hujan, tergantung dari ketebalan lingkaran kambium.

Kebakaran dan gempa bumi juga terekam dalam lingkaran kambium, seperti gempa bumi hebat yang mengguncang wilayah tersebut pada 1960.

Kakek Buyut juga dianggap sebagai kapsul waktu yang bisa mengajak kita ke masa lalu.

“Jika pohon ini menghilang, maka hilang pula kunci kita pada cara-cara kehidupan bisa beradaptasi pada perubahan di planet ini,” kata Barichivich. (AFP/vws)

Sumber: CNNINDONESIA

Share :

Baca Juga

Polri

Begini Apresiasi dari Tomas Toda Pada Jumat Curhat yang di Laksanakan Polsek Air Besar

Uncategorized

Sosialisasi Stop Pungli, Cegah Praktek Pungutan Liar

Uncategorized

Polsek Mandor Berikan Pengamanan Pemilihan BPD di Desa Kayu Tanam

Uncategorized

Berat Mau Move On

Polri

Kasat Lantas Audensi ke Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Landak

Uncategorized

DPR Soroti Pengalihan 10 Ribu Kuota Haji Tambahan untuk Haji Khusus

Uncategorized

Umat Nasrani Melaksanakan Ibadah Anggota Polsek Kuala Behe Mendatangi Gereja Yang Ada Di Kuala Behe

Uncategorized

5 Cara Mengurangi 500 Kalori Setiap Hari Biar Berat Badan Cepat Turun
error: Content is protected !!