Mengapa ahli gizi menyukai Kemiri. Lihat manfaat kesehatannya

PhD, Agronomy and Crop Science (ongoing), Master’s degree, Food Science and Technology · 1 years of experience · South Africa
- Kemiri adalah sumber mangan yang baik dan mereka secara efektif membantu dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Trace mineral ini membantu melindungi sel-sel saraf dari radikal bebas sehingga melindungi terhadap penyakit kronis.
- Kemiri efektif dalam mengurangi risiko masalah jantung. Mereka mengandung lemak tak jenuh tunggal seperti asam oleat yang membantu mengurangi risiko penyakit jantung. Telah dilaporkan bahwa beberapa kemiri dapat membantu mengurangi kolesterol jahat dan meningkatkan HDL pada gilirannya mencegah stroke dan gangguan jantung.
- Kemiri membantu menurunkan berat badan. Mereka mengandung beberapa vitamin B kompleks seperti riboflavin, niasin, thiamin dan folat, yang secara efektif meningkatkan laju metabolisme.
- Kemiri efektif dalam mencegah masalah kulit. Kemiri mengandung vitamin A dan seng yang membantu mencapai kompleks yang jelas dan melindungi terhadap infeksi kulit
Postgraduate Degree in Public and Family Health/Bachelor Degree in Nutrition and Dietetics · 5 years of experience · Brazil
- Kacang kemiri adalah sumber tiamin, folat, niasin, riboflavin, vitamin B6 dan mineral seperti kalsium, zat besi, magnesium fosfor dan seng.
- Kemiri kaya akan senyawa polifenol, yang dilaporkan memiliki efek anti-oksidan dan efek menguntungkan lainnya pada kesehatan manusia.
- Dimasukkannya kacang kemiri dalam makanan adalah pilihan yang layak untuk manajemen obesitas. Kacang kemiri kaya akan asam linoleat dan oleat, keduanya menunjukkan potensi dalam mencegah obesitas dan mengurangi risiko aterosklerotik.
MSc in Nutrition and Exercise Sciences · 3 years of experience · UK
- Kemiri tinggi mineral mangan. Satu sendok makan kemiri cincang (7 gram) mencakup 17% dari nilai harian yang disarankan. Mangan memainkan peran utama dalam sejumlah proses metabolisme, seperti karbohidrat serta metabolisme lipid, dan perkembangan tulang (Erikson dan Aschner, 2019)
Terkait