Semua sesuai prediksi. Antara teori dan praktik klop. Kualitas tak bisa dibohongi. Kalah 0-4 sangat wajar. Tak perlu cari kambing hitam. Kalah terhormat dengan kepala tetap tegak.
“Kekuatan apa pun tak ada arti, bila Tuhan sudah menentukan. Doa sebanyak apa pun kalau belum dikabulkan, tetap tak mengubah apa pun,” tanggapan kaum agama.
Australia untuk saat ini belum sepadan jadi lawan. Terlalu tangguh. Negeri kanguru itu sudah level dunia. Timnas kalah segalanya. Pemain muda yang diharapkan, juga tak mampu mengimbangi kualitas lawan. Walau lawan lebih tua, soal kecepatan masih oke. Tak terlihat terengah-engah. Tetap prima sepanjang 90 menit. Rekam jejak dan pengalaman sangat menentukan. Sebanyak 84 persen lebih pemain Australia merumput di Eropa. Sementara pemain kita baru sedikit.
Seperti pernah saya bilang, kita kalah dari sisi apapun. Australia bukan lawan kita. Butuh waktu sangat lama bisa selevel tetangga kita itu. Kalah sangat wajar. Masuk 16 besar sudah menjadi sejarah besar. Ini pencapaian luar biasa dalam sepakbola kita. Level Asia, Timnas berada di 16 besar. Itulah kelas kita saat ini. Jangan sampai turun, bila perlu di Piala Asia berikutnya tembus 8 besar. Bravo Timnas. Kalah terhormat dan pulang ke tanah air pasti dielukan oleh 270 juta warga negeri ini.
Australia kuat bukan karena postur tubuh lebih tinggi. Kuat bukan karena makan roti. Kuat karena kualitas pemain. Para pemain itu seperti terlahir jadi pemain hebat. Dari kecil mereka sudah dilatih, mulai dari sekolah bola, masuk klub, sampai akhirnya menjadi pemain profesional. Hidup mereka hanya di lapangan hijau. Mereka dibentuk sedemikian rupa sehingga menjelma menjadi pemain yang kuat fisik, memiliki visi bermain yang brilian. Mereka bukan pemain instant atau pemain hasil COD. Wajar apabila saat tanding, kualitas permainan mereka lebih tinggi levelnya.
Timnas bisa seperti Ausie asal berproses. Butuh waktu lama dan tidak instant. Proses itu sepertinya on the track. PSSI menargetkan tembus 16 besar dan tercapai. Target berikutnya lolos Piala Dunia. Sebuah target tinggi dan sangat berat dicapai. Mengingat lawan yang dihadapi Timnas para raksasa Asia, Jepang, Irak, dan Australia, bisa jadi pelajaran berharga. Pelatih STY sudah pasti mengevaluasi itu. Saya yakin, belajar dari Piala Asia, Timnas bisa naik level dan bisa lolos Piala Dunia.
#camanewak
Rosadi Jamani
Ketu Satupena Kalimantan Barat







