NUSA DUA – Gelaran konferensi sawit bertaraf internasional yang diadakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yakni Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2024 disambut baik pihak pemerintah. Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso.
“Kami mengapresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Indonesian Palm Oil Conference 2024 And 2025 Price Outlook. Melalui tema yang diangkat “Seizing Opportunities Amidst Global Uncertainty”. Harapannya, konferensi ini dapat memperkuat daya saing sawit Indonesia dan produk turunannya di pasar global,” ujarnya, melalui video yang ditampilkan di hadapan peserta IPOC, yang diadakan di Nusa Dua, Bali.
Diungkapkan Budi, pihaknya dan jajaran Kementerian Perdagangan berkomitmen mendukung dan terus bersinergi dengan pemangku kepentingan di industri kelapa sawit. Melalui kebijakan yang akan diterbitkan maupun melalui kemudahan akses pasar dalam perjanjian perdagangan yang telah diselesaikan.
“Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk mendukung dan mendorong sinergi antar pemangku kepentingan di industri sawit melalui kebijakan serta fasilitasi akses pasar melalui perjanjian perdagangan internasional,” ungkapnya.
“Kami berharap kegiatan ini (IPOC) dapat memberi masukan konstruktif untuk mendukung tiga fokus utama kementerian, yaitu pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, dan penguatan UMKM,” pungkas Budi.
Untuk diketahui, sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar, Indonesia memiliki peran besar dalam produksi biofuel, pangan dan industri oleokimia, produksi minyak sayur dunia. Kontribusinya sekitar 23% produksi minyak nabati dunia dan 58% minyak sawit dunia.
Strategi dari pemerintah
Terkait dengan kontribusi sawit sebagai biofuel (biodiesel), yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit. Di tahun mendatang, akan ditingkatkan menjadi B40 untuk pemanfaatan pada kendaraan dan industri.
Berkenaan dengan hal di atas, Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan pentingnya strategi manajemen produksi kelapa sawit.
“Pertama yaitu program penanaman kembali untuk petani kecil. Lebih dari 360.000 ha lahan petani kecil telah menikmati dana ini sejak 2017 dengan 158 ribu petani sebagai penerima manfaat. Kedua, menerapkan praktik agrikultur yang lebih baik dengan meningkatkan produk unggul dan meningkatkan sertifikasi berkelanjutan, seperti ISPO,” katanya, yang disampaikan melalui video di acara pembukaan IPOC 2024.
“Sementara, tantangan eksternal juga dapat terjadi tentang isu lingkungan dekat ketidakseimbangan data, seperti EUDR. Melalui konferensi ini diharapkan dapat menekankan tentang komitmen Indonesia dalam isu ini. Memberikan saran untuk mengundur implementasi kebijakan European Union Deforetation Regulation (EUDR) oleh European Parlementerary hingga 2026. Serta mengharapkan kebijakan ini untuk dapat ditinjau kembali,” sambung Menko Airlangga.
“Mengingat, jutaan orang bergantung pada industri kelapa sawit, oleh karena itu menjadi kewajiban semua untuk memastikan industri ini beroperasi secara berkelanjutan, efisien dan kompetitif,” pungkasnya.
Sumber: Sawit Indonesia







