PAGI itu, matahari belum sepenuhnya muncul di Kecamatan Jelimpo. Dari dapur gizi Kasih Anugrah Jelimpo, aroma nasi hangat dan sayur segar mulai menyebar.
HERI IRAWAN, Ngabang – Kabupaten Landak (KAL-BAR)
Di sudut dapur, beberapa ibu sibuk menyiapkan lauk: ayam suwir, tempe, dan sayur hijau. Sementara di sisi lain, wadah makanan ditata rapi.
“Harus cepat selesai sebelum jam tujuh. Anak-anak sudah menunggu,” ujar salah satu karyawan dapur, sambil mengaduk wajan besar.
![]()
Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya sejak 19 Agustus 2025, mereka bersiap mengantar makanan bergizi gratis (MBG) ke sekolah-sekolah dan pos pelayanan gizi.
Jalan yang Tidak Selalu Bersahabat
Ketika matahari mulai naik, suara motor dan mobil bak terbuka terdengar. Beberapa petugas, dengan jaket hujan dilipat di tas, sudah siap meluncur. Rute hari ini tidak mudah: melewati jalan aspal, lalu berganti jalan tanah kuning yang masih basah sisa hujan semalam.
Jika hari cerah, perjalanan bisa ditempuh kurang dari 30 menit. Namun ketika hujan, jalan berubah licin, motor mudah tergelincir.
![]()
“Kalau hujan deras, kadang bisa hampir sejam baru sampai,” kata Petrus Sogian, Ketua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Jelimpo.
Tapi tak ada pilihan lain. Sebab di balik perjalanan itu, ada 3.457 penerima manfaat yang menunggu: mulai dari balita, anak-anak PAUD, siswa SD hingga SMA, hingga ibu hamil dan menyusui.
Di Ujung Perjalanan
Sesampainya di Sangku, sebuah dusun yang jalannya terjal dan berliku, suara riang anak-anak langsung menyambut.
Mereka berbaris rapi, tangan-tangan kecil mengulurkan kotak makan dengan mata berbinar.
![]()
“Ini enak Bu, ada ayamnya!” celetuk seorang murid SD sambil tersenyum lebar.
Bagi petugas, senyum itu adalah hadiah terbesar. Lelah perjalanan, lumpur di ban motor, bahkan baju yang kotor seketika tak terasa.
“Setiap kali lihat mereka makan dengan lahap, hati ini lega sekali. Seperti ada energi baru untuk besok lagi,” ujar pengantar MBG lirih.
![]()
Tekad yang Tidak Pernah Pudar
Secara aturan, satu dapur idealnya hanya melayani dalam radius 6 kilometer, agar makanan tetap segar.
Namun realitas di lapangan berbeda. Kadang mereka harus menempuh jarak lebih jauh, demi menjangkau sekolah di pedalaman.
“Betul, berat di jalan. Tapi dengan tekad dan kemampuan yang ada, kami berusaha menjangkau semua,” kata Petrus.
Yayasan Muzijat Pemuaian sebagai penggerak, bersama mitra dapur gizi Kasih Anugrah Jelimpo, terus berkomitmen. Bagi mereka, program MBG bukan sekadar tugas, tapi panggilan hati.
Sepiring Makanan, Segunung Harapan
Bagi sebagian orang, sepiring nasi dengan lauk sederhana mungkin hal biasa.
Namun bagi anak-anak Jelimpo, sepiring makanan itu adalah jembatan menuju masa depan yang lebih sehat.
Bagi ibu hamil dan menyusui, makanan bergizi adalah kekuatan untuk melahirkan dan membesarkan generasi berikutnya.
SPPG Kecamatan Jelimpo telah membuktikan: meski jalanan terjal, meski hujan membuat perjalanan sulit, semangat tidak pernah padam. Karena mereka tahu, gizi adalah hak setiap anak bangsa.
Dan setiap kali kendaraan mereka menembus jalan tanah kuning, ada doa yang sama: semoga sepiring gizi ini menjadi berkah, dan melahirkan generasi emas di pelosok negeri. (*)












