*Korban Luka Rumah Walet Roboh NGABANG, LANDAKNEWS – Masih ingat tragedi robohnya bangunan rumah walet yang terjadi pada 29 Agustus 2017 lalu di Desa Hilir Tengah Kecamatan Ngabang?
Tragedi yang sudah merenggut dua nyawa pekerja bangunan rumah walet yang sedang dibangun itu, meninggalkan luka mendalam bagi salah satu korban selamat yakni, Sapri (33).
Sejak terjadinya tragedi robohnya rumah walet itu, saat ini Sapri hanya bisa terbaring tak berdaya di kediamannya di Gang Cidayu RT 7/RW 3 Pulau Bendu Desa Hilir Tengah Kecamatan Ngabang.
Ditemui dikediamannya, Jumat (23/2), bapak dua anak yang masih kecil itu hanya bisa terbaring diatas tilam ruang tamunya. Kondisi Sapri memang cukup lemah. Dia hanya bisa baring terlentang saja. Untuk memutarkan badannya ke kiri dan ke kanan harus dibantu oleh keluarganya. Ini dikarenakan terdapat luka yang cukup besar disekitar punggungnya.
Menurut Sabri, sudah kurang lebih enam bulan ini sejak musibah robohnya rumah walet tersebut, ia hanya bisa terbaring tak berdaya.
“Sudah sekitar enam bulan ini saya tidak bisa ngapa-ngapa, bang,” ujar Sabri memulai pembicaraan.
Ia menceritakan, setelah peristiwa robohnya rumah walet tersebut, ia langsung dilarikan ke RSUD Landak untuk mendapatkan perawatan intensif. Tanpa menjalankan rawat inap di rumah sakit tersebut, iapun langsung dibawa ke RSSA Pontianak dan menjalani rawat inap selama 22 hari di rumah sakit milik swasta tersebut.
“Dari pihak RSUD Landak mengatakan kalau leher saya patah. Padahal tulang belakang saya mengalami pergeseran. Akhirnya, akibat terbaring terlalu lama sejak peristiwa itu, disekitar punggung saya mengalami luka. Lama-lama luka itu kian membesar hingga sekarang ini, ” katanya.
Setelah pulang dari RSSA Pontianak, Sapri tidak bisa bangun. Kalaupun mau bangun, harus ada orang yang membantunya.
“Untuk saat ini, saya melakukan pengobatan luka saya secara sendiri. Tapi tadi ada pihak Puskesmas Ngabang yang datang ke rumah saya dan langsung mengobati luka yang saya alami. Saat ini luka saya sudah ditutup, ” terang Sapri yang kala itu didampingi kedua orangtua dan istrinya.
Diakui Sapri, petugas medis Puskesmas Ngabang menyarankan supaya ia dibawa ke RSUD Landak untuk mengobati luka yang dideritanya.
“Sebelumnya, saya sudah pernah dirawat lagi ke RSUD Landak selama seminggu sejak dua bulan lalu. Tapi setelah menjalani perawatan, saya disuruh pulang ke rumah. Dokter beralasan luka yang saya alami sudah mau kering. Tapi sampai sekarang luka saya belum kunjung sembuh, ” akunya.
Ia mengaku, setelah kejadian robohnya rumah walet itu, pemilik rumah walet memang ada memberikan bantuan pengobatan sebesar Rp. 48 juta. Namun, biaya pengobatan di RSSA menghabiskan anggaran sebesar Rp. 63 juta.
“Kekurangan biaya pengobatan itu akhirnya ditambah oleh pihak keluarga. Saya ingin melanjutkan lagi pengobatan terhadap luka yang saya alami. Tapi kita lihat biayanya dulu,” kata Sabri.
Karena keterbatasan anggaran untuk melakukan pengobatan, istri Sapri, Yuliani membuka rekening Bank. Bagi para donatur yang ingin membantu pengobatan Sabri, bisa melalui rekening BRI 751001006279532 atas nama Yuliani.
Penulis: Tim Liputan
Editor: One









