Home / Nasional

Rabu, 22 Februari 2023 - 07:12 WIB

Kelaikan Kedelai Non GMO atau “Identity Preserved” di Indonesia

Tempe dengan bahan baku kedelai non GMO (atau kedelai

Tempe dengan bahan baku kedelai non GMO (atau kedelai "IP") diyakini lebih enak dan sehat bagi yang mengkonsumsinya. (Foto: Courtesy/Attempe)

Di dunia pertanian, saat ini ada gerakan untuk menggalakkan budi daya kedelai Identity Preserved (IP), atau kedelai yang identitasnya dipertahankan. Di Indonesia produksi tahu dan tempe sebagian besar dilakukan dengan kedelai komoditas, namun kedelai IP tawarkan peluang baru bagi pengusaha makanan.

VOA — Kedelai yang identitasnya dipertahankan (IP) atau kedelai non GMO (yaitu tidak termodifikasi secara genetika) mulai dilirik karena memiliki keistimewaan, yaitu kualitasnya yang sangat baik untuk makanan, seperti tempe atau tahu. kedelai ini ditanam secara konvensional, tetapi kemudian ditambah dengan nutrisi dan kimia yang dibutuhkan.

Sementara itu, kedelai komoditas adalah kedelai yang dimodifikasi secara genetika atau GMO (genetically modified organism ), di mana benihnya direkayasa di laboratorium agar tahan penyakit, hama dan kondisi lingkungan.

VOA menghubungi Made Astawan, pengajar di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB dan ketua Indonesia Tempe Forum. Menurut Astawan, faktor penting dalam produksi tempe dan tahu adalah ketersediaan dan harga kedelai, dan bukan mutunya.

Baca juga  Gempa Susulan Tojo Una Sulteng, Magnitudo 6,5

“Sehingga untuk tempe tahu yah di Indonesia lebih concern dengan kedelai komoditas, kedelai GMO, karena alasan harganya lebih murah dan ketersediaannya lebih banyak dibandingkan kedelai non GMO,” ungkapnya.

Itulah sebabnya minat industri tempe dan tahu Indonesia pada kedelai IP sangat kecil.

Sebagian petani di AS berusaha untuk menggalakkan budi daya tanaman kedelai yang ditanam dan diolah lewat apa yang disebut sistem identity preservation atau pelestarian identitas ini.

Proses lewat program IP ini, kedelai IP menawarkan sesuatu yang lebih istimewa dibandingkan kedelai komoditas. Misalnya, lewat proses IP ini bisa dikembangkan kedelai dengan kadar protein lebih tinggi, atau asam oleat tinggi sehingga semakin berpotensi menjadi pengganti daging dan juga lebih sehat.

Di AS sebuah organisasi bernama Specialy Soya and Grain Alliance (SSGA), bergelut dengan peningkatan ekspor kedelai IP ini.

Shane Frederick adalah manajer program strategis di SSGA. Dia mengatakan, “Itu adalah pasar (maksudnya Indonesia) dari sudut pandang IP kami harap bisa dikembangkan. Salah satu bidang yang kami bahas, ketika kami ke Vietnam misalnya dan memperkenalkan kedelai IP, seorang peserta seminar dari India berkilah bahwa untuk inovasi pangan, dalam hal ini susu kedelai dan tahu, maka IP adalah peluangnya karena bisa dirancang sesuai kebutuhan.”

Baca juga  Kepala Daerah dan DPRD Ikut Dapat THR

Indonesia mengkonsumsi rata-rata 2,5 juta ton kedelai per tahun, tetapi masalahnya di Indonesia adalah, selama daya beli masyarakat di Indonesia belum kuat, maka perhatian akan produk tempe dan tahu yang bermutu lebih baik belum akan menjadi prioritas masyarakat, dan harga yang terjangkau akan menjadi prioritas untuk para pengrajin tempe dan tahu disana.

Di negara Asia lain, seperti Korea Selatan misalnya, di mana baik daya beli maupun kesadaran konsumen dengan kesehatan sudah tinggi, perusahaan makanan sudah melirik kedelai IP ini untuk digunakan sebagai bahan pembuatan pangan mereka. [jm/ka]

Sumber: VOA 

Share :

Baca Juga

Nasional

Kasus Kanjuruhan Jadi Bukti Buruknya Hukum dan Penegakan Keadilan

Nasional

Indonesia Desak Israel Hentikan Kekerasan terhadap Warga Sipil Palestina

Nasional

Gaungkan Gaya Hidup Sehat, MODENA Berikan Inspirasi Menu Diet Sehat yang Praktis

Nasional

Sekjen Kemendagri Minta Pemda Tinjau Persiapan Gerakan Pangan Murah Serentak

Nasional

Peringatan Dini BMKG Selasa 9 Mei 2023: Waspada Cuaca Ekstrem Hujan Lebat di 27 Wilayah

Nasional

Survei Indikator: Generasi Z dan Milenial Semakin Peduli Isu Iklim

Nasional

Koalisi Menuntut Jokowi Cabut Keppres Soal HAM Berat Masa Lalu

Nasional

Bio Farma Teken Kerja Sama Pengembangan Vaksin dengan Dua Perusahaan Amerika
error: Content is protected !!