Home / Politik

Kamis, 7 Maret 2024 - 09:29 WIB

Debat Nyaris Adu Jotos

“Sini lho, anj*ng, set*n. Gue nggak takut!” tantang Deddy.

“Lho yang anj*ng, keluar kalau berani!” sahut Emanuel.

Bla..bla…bla. Sebuah peristiwa di balik layar nyaris adu jotos antara politisi PDIP, Deddy Sitorus vs pendukung Prabowo, Emmanuel Ebenezer di sebuah tv swasta. Pertengkaran itu tidak ditayangkan, tapi ada rekaman di balik layar yang bocor ke publik. Keduanya nyaris _beramok_ (berantem). Sejumlah kru tv sibuk melerai keduanya. Dalam hati dan pikiran saya yang liar, coba dibiarkan keduanya begasak. Seru kali ya, mirip duel petarung UFC. Jangan lerai biar tahu siapa yang jago dan jantan. Tak hanya jago debat tapi jago adu fisik. Maunya gitu, saya yakin kalian pinginnya juga gitu kan. Hayo ngaku, hehehe. Untungnya, orang kita masih bermoral dan beradab. Orang mau berantem pasti dilerai. Tanda bahwa kita sebenarnya tak suka keributan. Pasti senang nonton orang ribut.

Apa makna peristiwa nyaris adu jotos dua politisi elit itu? Kalah itu menyakitkan. Akan dicari segala cara untuk meyakinkan publik bahwa yang menang melakukan kecurangan. Begitu juga yang menang, tak terima dikatain curang. Akan marah dan emosi. Ya.. ialah, sebentar lagi mau merayakan kemenangan eh malah mau digugat atau diangket. Akhirnya marah vs marah sama dengan terbakar. Bisa menjelma, kalah jadi abu, menang jadi arang.

Sekali lagi, untungnya orang kita masih menjunjung etika dan moral. Orang mau berantem cepat dilerai, bukan dibiarkan. Ini soal bangsa beradab. Kenapa dilerai, takutnya ada aksi penghabisan nyawa manusia. Sebab, kecenderungan orang bila emosi sudah level atas, ia tak peduli lagi soal moral, etika, aturan, adat istiadat. Dipikirannya hanya ingin cepat menghabisi nyawa lawan. Itu yang dikhawatirkan. Makanya perlu dilerai.

Baca juga  Rakercab DPC. Gerindra Landak, Bertekad Menangkan Heri Saman-Vinsensius Dan Midji-Didi

Ingat peristiwa aksi carok di Madura bulan lalu. Kenapa terjadi karena tidak ada yang melerai. Orang yang melerai tanda mereka peduli sesama. Jangan sampai ada aksi pembunuhan di depan mata. Sungguh bermoral yang mau melerai sebuah pertengkaran.

Hukum dan Moral

Cuma, dalam hal hukum sepertinya moral semakin diabaikan. Muncul ungkapan, “Tak masalah melanggar moral, asal jangan melanggar hukum.” Ungkapan ini muncul usai drama hukum di Mahkamah Konstitusi (MK). Belum berhenti sampai di situ, peristiwa di KPU. Lewat DKPP memvonis semua komisionernya melanggar kode etik. Belum lagi soal mafia tanah. Tanah orang yang udah jelas sertifikatnya, tiba-tiba muncul duplikatnya. Karena duit dan pengaruh, yang punya tanah harus merelakan tanahnya diambil secara hukum. Hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Hukum hanya milik orang berduit, tidak dengan si miskin dan siRekap, eh salah si lemah maksudnya.

Bisa dikatakan, bangsa ini sedang krisis moral, terutama moral hukum. Hukum dibuat sebenarnya untuk mempertahankan moral tetap terjaga. Faktanya, hukum dibuat bukan untuk itu, melainkan untuk melanggengkan kekuasaan, menyingkirkan yang lemah, memenjarakan orang yang kritis, menyeret ke pengadilan orang tidak disukai. Hukum bukan lagi untuk mencari keadilan, melainkan untuk menghabisi lawan.

Memang berat menjadi oposisi, orang yang kontra dengan penguasa dan pengusaha. Bersiap sewaktu waktu dilaporkan ke polisi. Ganjar Pranowo mulai dikerjain dengan hukum. Menteri Nasdem sudah dua dijebloskan ke penjara. Hukum sudah menjadi alat politik, bukan untuk mencari keadilan.

Baca juga  Anis Matta : Partai Gelora dan PKS Memiliki Perbedaan Platform Indonesia Masa Depan

Apa yang mesti dilakukan? Supremasi hukum amanat reformasi. Dari awal digaungkan sampai sekarang, gagal ditegakkan. Mulai dari Habibie, Gusdur, Megawati, SBY, sampailah Jokowi, hukum bahkan mundur ke belakang. Sering kita mendengar, aturan dibuat bukan untuk dipatuhi, melainkan untuk dilanggar. Ungkapan ini sebagai refleksi betapa parahnya moral di negeri ini. Dosen Pancasila berbuih-buih ngajarkan moral di kelas, eh keluar dari ruangan, para penguasa, elit politik, penegak hukum malah sering mempertontonkan pelanggaran etika dan moral. Satu-satunya kekurangan Pancasila itu,  siapa yang mau diteladani. Mungkin dosen atau gurunya saja layak diteladani dalam hal Pancasila. Pesan pengajar Pancasila, “Biarlah mereka melanggar moral, asal jangan kalian ikut-ikutan.” Ya, hanya itu pesan untuk menenangkan siswa dan mahasiswa saat menerima pelajaran Pancasila.

Kembali ke soal pertengkaran para elit politik yang nyaris adu jotos, miris sekali. Betapa adab, etika, dan moral semakin pudar. Semoga saja tidak merembes ke akar rumput. Cukuplah Dedy Sitorus dan Imanuel Ebenezer yang begitu. Jangan pula ente ya. Kepala boleh panas, tapi hati tetap sejuk. Usah nak manas, kata orang Sambas. Maaf, kopi saya sudah sejuk pula ni. Seruput kopi dulu wak.

#camanewak

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalimantan Barat

Share :

Baca Juga

Politik

Pemerintah Jangan Pelit Sama Rakyat, Jangan Kasih Vaksin Murahan

Politik

Desas-desus Duet Prabowo-Ganjar untuk Saingi Anies Baswedan, PDIP Langsung Menolak: Harus Capres

Politik

AL Kembalikan Berkas Balon Bupati Kabupaten Landak di Partai Hanura Landak

Politik

Pakar: Putusan MA Soal Usia Tidak Bisa Diberlakukan Pada Pilkada 2024

Politik

Gerindra Gelar Syukuran HUT di Kediaman Prabowo

Politik

Cornelis Bagikan 2000 Paket Sembako Untuk Dapil Kalimantan Barat 1

Politik

Partai Gelora Berbagi Cara dan Resep Membuat Pie yang Enak

Politik

Duet Karol-Gidot, Cornelis Tegaskan Apa Yang disampaikan Olehnya Bukan Berita Tidak Benar
error: Content is protected !!