Landak, Kalimantan Barat – Banjir yang melanda Kabupaten Landak sejak Senin, 20 Januari 2025, telah mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat setempat.
Bencana ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan meluapnya Sungai Landak.
Hingga Minggu, 26 Januari 2025, pukul 19.00 WIB, banjir masih melanda sejumlah wilayah meskipun di beberapa daerah mulai surut.
Sebanyak 9 kecamatan dan 34 desa terdampak banjir, meliputi Kecamatan Sengah Temila, Meranti, Menyuke, Mempawah Hulu, Menjalin, Sompak, Air Besar, Ngabang, dan Kuala Behe. Dampak banjir ini telah memengaruhi 8.606 kepala keluarga (KK) atau 36.030 jiwa.
Sebanyak 34 KK dengan total 89 jiwa mengungsi di posko yang tersebar di berbagai lokasi, termasuk Aula Camat Ngabang.
Kerugian materil tercatat cukup signifikan, dengan 9.024 rumah terendam, satu sekolah rusak, dua akses jalan terganggu, serta dua jembatan terdampak. Jembatan di Desa Angkanyar hanyut, sedangkan jembatan di Kersik Belantian mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dilewati kendaraan roda empat. Tinggi muka air (TMA) sempat mencapai 20–100 cm, namun kini mulai surut sekitar 30 cm.
BPBD Kabupaten Landak telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 30 hari, mulai 22 Januari hingga 22 Februari 2025, sesuai Surat Keputusan Nomor 8/BPBD/TAHUN/2025.
“Berbagai langkah penanganan dilakukan, seperti evakuasi warga terdampak, penyediaan tempat pengungsian, dan distribusi bantuan logistik dari berbagai organisasi masyarakat dan lembaga terkait,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Landak Herman Masnur, kepada media ini.
Selain itu, tim kesehatan disiagakan di posko pengungsian untuk memberikan pelayanan medis kepada warga. Bantuan yang mendesak diperlukan, termasuk makanan siap saji, selimut, family kit, perahu karet, dan tambahan personel sukarelawan untuk membantu proses evakuasi.
“Di beberapa wilayah seperti Kecamatan Mempawah Hulu, Sompak, Sengah Temila, Menjalin, Kuala Behe, Air Besar, dan Meranti, banjir mulai surut. Namun, Kecamatan Ngabang masih mengalami kenaikan air, terutama di daerah hilir,” tegasnya.
“Banjir kiriman dari daerah hulu kini telah mencapai ibu kota Kabupaten Landak, Ngabang, meskipun air di beberapa titik mulai berangsur surut,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Landak bersama BPBD, TNI/Polri, perangkat desa, dan relawan terus berupaya meminimalkan dampak bencana ini.
Bantuan berupa perahu untuk evakuasi mendesak diperlukan, terutama untuk wilayah Ngabang yang akses jalannya terputus akibat banjir. Semua pihak diimbau untuk tetap waspada menghadapi potensi banjir susulan. (One)