Saat Konsumsi Ikan Menurun, Harapan Pembudidaya Tetap Dijaga
Oleh: Heri Irawan – Ngabang, Kabupaten Landak
Di balik riak kolam-kolam ikan yang tersebar di berbagai desa di Kabupaten Landak, tersimpan harapan yang tak pernah padam. Para pembudidaya terus berusaha menjaga kehidupan, meski dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sarana hingga melemahnya daya beli masyarakat.
Data Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Landak menunjukkan konsumsi ikan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi dan cenderung menurun. Pada 2021 konsumsi ikan tercatat sebesar 38,03 kilogram per kapita per tahun, meningkat menjadi 47,33 kilogram pada 2022, kemudian turun menjadi 45,53 kilogram pada 2023, 44,09 kilogram pada 2024, dan kembali merosot menjadi 26,02 kilogram pada 2025.
Angka tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sebab, di balik statistik itu terdapat persoalan yang menyentuh kehidupan masyarakat dan para pelaku usaha perikanan.
Kepala DPPKP Kabupaten Landak, John Elak, ST, mengatakan penurunan konsumsi ikan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Selain daya beli masyarakat yang melemah akibat tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok, pola konsumsi masyarakat juga mulai berubah.
“Sebagian masyarakat kini lebih memilih mengonsumsi ikan laut dibandingkan ikan air tawar maupun ikan sungai. Sementara produksi ikan lokal juga masih terbatas dan sebagian besar budidaya masih dilakukan secara konvensional,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah untuk terus membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi ikan sebagai sumber protein yang sehat dan terjangkau.
Salah satu langkah yang terus didorong adalah melalui Gerakan Gemar Makan Ikan (Gemarikan).
Menurut John Elak, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan konsumsi ikan, tetapi juga membuka peluang pasar bagi hasil budidaya para pembudidaya lokal.
Ia mencontohkan kegiatan Gemarikan yang beberapa waktu lalu digelar Komisi IV DPR RI di Kecamatan Sengah Temila. Dalam kesempatan itu, ia berharap bantuan pemerintah kepada kelompok pembudidaya tidak hanya berupa benih ikan.
“Kalau bisa bantuannya juga meliputi pakan, obat-obatan, hingga vitamin. Dengan begitu, peluang keberhasilan budidaya akan semakin besar,” katanya.
Di tengah berbagai keterbatasan, semangat masyarakat untuk membudidayakan ikan justru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Jika pada 2021 Kabupaten Landak memiliki 135 Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), maka pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 305 kelompok.
Peningkatan tersebut menjadi bukti bahwa masih banyak warga yang melihat sektor perikanan sebagai harapan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Pemerintah daerah pun terus memberikan pendampingan melalui penyuluhan, pelatihan budidaya, bantuan benih, pakan ikan, kolam terpal, pompa air, hingga peralatan pendukung lainnya. Setelah bantuan disalurkan, proses budidaya tetap dipantau dan dievaluasi agar hasilnya dapat berkembang lebih baik.
Namun bagi John Elak, membesarkan produksi saja belum cukup. Tantangan berikutnya adalah bagaimana hasil panen dapat terserap pasar dengan harga yang layak.
Karena itu, ia berharap promosi ikan hasil budidaya lokal dapat diperluas melalui media daring, media sosial, maupun media massa sehingga masyarakat semakin mengenal dan memilih produk perikanan dari Kabupaten Landak.
Di penghujung perbincangan, ia juga berharap dukungan pemerintah daerah terus mengalir, terutama dalam peningkatan sarana dan prasarana sektor perikanan.
“Yang paling kami harapkan adalah dukungan Pemerintah Kabupaten Landak untuk terus memperbaiki fasilitas yang ada, sehingga pembudidaya semakin semangat mengembangkan usahanya,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan anggaran dan berbagai tantangan yang dihadapi, harapan itu tetap hidup. Selama masih ada masyarakat yang tekun merawat kolam, memberi pakan setiap pagi, dan percaya bahwa usaha kecil dapat menghidupi keluarga, masa depan budidaya ikan di Kabupaten Landak akan terus menemukan jalannya.
(Tamat)









