BAGIAN II — PENDIDIKAN, SOSIAL DAN PERUMAHAN
Pewawancara: Heri Irawan — Pimpinan Redaksi Landak News
Narasumber: Letkol Doni Prasetyo, S.Hub,Int,M.A.P, — Dandim 1210/Landak
NGABANG, LANDAK NEWS – Pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur fisik, tetapi juga menyangkut kualitas pendidikan, kepedulian sosial dan ketersediaan tempat tinggal yang layak bagi masyarakat.
Di Kabupaten Landak, keterlibatan TNI melalui Kodim 1210/Landak tidak hanya terlihat dalam pembangunan infrastruktur dan kegiatan kewilayahan, tetapi juga melalui dukungan terhadap rehabilitasi sarana pendidikan, panti asuhan hingga Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Dalam pelaksanaannya, Kodim 1210/Landak menempatkan diri sebagai bagian dari kolaborasi bersama pemerintah, instansi terkait, pihak sekolah dan masyarakat. Prinsip gotong royong serta ketepatan sasaran menjadi bagian penting agar setiap program yang dilaksanakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam wawancara eksklusif bersama Landak News, Dandim 1210/Landak Letkol Doni Prasetyo menjelaskan bagaimana keterlibatan TNI dalam mendukung sektor pendidikan dan sosial, termasuk mekanisme penentuan sasaran rehabilitasi RTLH serta berbagai tantangan yang dihadapi di wilayah Kabupaten Landak.
Berikut petikan wawancaranya:
—
Q7. Di bidang pendidikan, TNI juga terlibat dalam rehabilitasi sekolah. Apa yang menjadi dasar Kodim 1210/Landak memilih sekolah yang mendapatkan bantuan rehabilitasi?
Letkol Doni Prasetyo:
Sebenarnya program rehabilitasi sekolah ini turun langsung dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui kerja sama dengan pihak TNI untuk membantu pelaksanaan rehabilitasi sekolah.
Jadi, untuk penentuan sasaran sekolah, kewenangannya berada pada kementerian. Kami di daerah membantu ketika program tersebut mulai dilaksanakan.
Dalam pelaksanaannya, kami juga berkolaborasi dengan masyarakat, pihak sekolah dan unsur dari kementerian yang turun langsung untuk mengawasi pelaksanaan program.
Tugas kami di wilayah adalah membantu menggerakkan masyarakat serta melibatkan personel untuk mendukung proses pembangunan tersebut.
Harapannya, pekerjaan dapat berjalan cepat, tepat dan tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama.
Apa yang menjadi harapan pimpinan adalah program ini tepat sasaran hingga ke tingkat paling bawah sehingga masyarakat dapat benar-benar merasakan manfaatnya, termasuk anak-anak sekolah.
Jadi, pada prinsipnya tugas kami adalah membantu. Ketika ada perintah dari pimpinan dan permintaan dari kementerian untuk bekerja sama, kami akan membantu semaksimal mungkin sesuai dengan arahan yang diberikan.
Pada akhirnya, manfaat pembangunan tersebut dikembalikan kepada anak-anak sekolah dan masyarakat agar mereka dapat merasakan hasilnya.
—
Q8. Selain sekolah, terdapat pula program rehabilitasi panti asuhan. Bisa diceritakan latar belakang program tersebut dan perhatian apa yang ingin diberikan TNI kepada anak-anak yang tinggal di panti asuhan?
Letkol Doni Prasetyo:
Kemarin kami mendapatkan program dari Angkatan Darat dan Kodim ditunjuk untuk melaksanakan rehabilitasi satu panti asuhan.
Kami kemudian menyampaikan kepada staf dan jajaran Koramil bahwa karena anggaran yang tersedia hanya untuk satu titik, maka kami meminta agar sasaran yang dipilih adalah panti asuhan yang kondisinya paling berat dan tidak layak.
Akhirnya, ditetapkan satu titik di wilayah Kecamatan Jelimpo atau Kecamatan Ngabang.
Dalam menentukan sasaran, kami tidak melihat siapa pemiliknya. Yang menjadi perhatian adalah kondisi tempat tersebut dan kebutuhan masyarakat yang ada di dalamnya.
Alhamdulillah, setelah dilaksanakan rehabilitasi, hasilnya sangat terlihat.
Awalnya kondisi bangunan sudah tidak layak, sekarang sudah bisa dikatakan layak untuk ditempati.
Harapan kami, anak-anak yang tinggal di panti asuhan tersebut dapat merasa lebih nyaman sehingga bisa lebih fokus belajar dan mengejar cita-cita mereka.
Dengan kondisi tempat tinggal yang lebih baik, kami juga berharap kesehatan mereka lebih terjaga dan semangat belajar semakin meningkat.
Meskipun mereka sudah tidak memiliki orang tua, kami berharap mereka tetap bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Itu harapan kami
—
Q9. Untuk program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni atau RTLH, berapa besar perhatian Kodim 1210/Landak terhadap persoalan rumah masyarakat kurang mampu, dan bagaimana mekanisme penentuan rumah yang menjadi sasaran rehabilitasi?
Letkol Doni Prasetyo:
Program RTLH ini sebenarnya sudah lama dilaksanakan. Di Kodim, salah satu program yang biasanya berkaitan dengan hal tersebut adalah melalui TMMD.
Akhir-akhir ini juga terdapat program karya skala besar dari pimpinan Angkatan Darat yang sasarannya mencakup puluhan rumah untuk direhabilitasi.
Harapannya, masyarakat yang rumahnya tidak layak dan benar-benar tidak mampu dapat kita bantu sehingga mereka bisa merasakan kehidupan yang layak di tempat tinggal mereka.
Dalam menentukan sasaran, kami tetap berkolaborasi dengan instansi terkait dan pemerintah daerah agar rumah yang mendapatkan bantuan benar-benar tepat sasaran.
Babinsa juga dapat diturunkan ke lapangan untuk melakukan pengecekan. Jadi, kondisi rumah harus dipastikan terlebih dahulu apakah memang benar-benar membutuhkan bantuan.
Kami menggunakan skala prioritas. Kalau anggaran yang tersedia hanya untuk 10 titik, maka 10 titik tersebut harus menjadi prioritas utama.
Selanjutnya, apabila ada program dan anggaran berikutnya, kita dapat melanjutkan ke sasaran berikutnya.
Harapannya, masyarakat dapat terbantu dan tempat tinggal mereka menjadi layak untuk ditinggali.
—
Q10. Apa tantangan terbesar dalam pelaksanaan rehabilitasi RTLH di Kabupaten Landak, mengingat wilayahnya cukup luas dan kondisi masyarakat di setiap kecamatan berbeda-beda?
Letkol Doni Prasetyo:
Kalau berbicara mengenai tantangan, sebenarnya cukup besar dalam pelaksanaan seluruh program, baik sumur bor, pembangunan Jembatan Perintis Garuda, program Manunggal Air maupun RTLH.
Pertama adalah faktor geografis.
Kondisi di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Landak, tentu berbeda dengan daerah seperti di Pulau Jawa. Di sini terdapat banyak sungai dan wilayah pegunungan. Akses menjadi salah satu persoalan yang harus benar-benar kita atasi.
Kedua, adalah harga material atau bahan bangunan yang tidak bisa disamakan dengan harga di Pontianak. Harga material di Kabupaten Landak, khususnya di beberapa wilayah, terasa lebih mahal.
Karena itu, kami harus mengatur efisiensi agar dana yang diberikan dapat mencukupi dan hasil pembangunan tetap maksimal.
Salah satu caranya adalah dengan melaksanakan gotong royong antara personel TNI dan masyarakat di sekitar lokasi pembangunan.
Dengan demikian, kebutuhan pembangunan atau rehabilitasi rumah tidak layak huni dapat dipenuhi secara efisien dan efektif.
Harapannya, hasil pekerjaan benar-benar maksimal sehingga masyarakat yang menjadi sasaran program dapat merasakan langsung dampak dan manfaat dari pembangunan yang kita kerjakan. (Bersambung ke Bagian III)














