BAGIAN III — KETAHANAN PANGAN DAN PENANGANAN STUNTING
LANDAK NEWS — Ketahanan pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi dua agenda yang saling berkaitan dalam membangun daerah. Ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan bahan pokok, tetapi juga menyangkut kesejahteraan petani dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara berkelanjutan.
Di Kabupaten Landak, upaya tersebut turut mendapat dukungan dari jajaran Kodim 1210/Landak melalui pendampingan kepada petani, optimalisasi lahan pertanian, pengawalan program pemerintah, hingga keterlibatan dalam edukasi dan pencegahan stunting di tengah masyarakat.
Sebagai aparat kewilayahan, TNI melalui Babinsa bersentuhan langsung dengan masyarakat di tingkat desa. Peran tersebut menjadi bagian dari sinergi bersama pemerintah daerah, kelompok tani, tenaga kesehatan, pemerintah desa dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Dalam wawancara eksklusif Landak News, Pimpinan Redaksi Heri Irawan berbincang bersama Dandim 1210/Landak Letkol Doni Prasetyo, S.Hub,Int,M.A.P. mengenai kiprah Kodim dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus membantu pemerintah dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting.
Berikut petikan wawancaranya:
Q11. Ketahanan pangan menjadi salah satu agenda penting pemerintah. Bagaimana peran Kodim 1210/Landak dalam mendukung program ketahanan pangan di Kabupaten Landak?
Letkol Doni Prasetyo:
Ketahanan pangan merupakan salah satu agenda penting pemerintah. Dalam hal ini, posisi Kodim adalah membantu pemerintah daerah dan para petani dalam menjalankan berbagai program di sektor pertanian.
Pertanian merupakan sektor utama dalam penyediaan pangan. Karena itu, kita harus terus berupaya agar Indonesia mampu mencapai dan mempertahankan swasembada pangan. Ini juga berkaitan dengan kedaulatan negara, sehingga kita tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada pihak luar dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Program seperti cetak sawah dan optimalisasi lahan sebenarnya sudah lama berjalan. Sasarannya antara lain lahan milik masyarakat yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Lahan tidur dapat dioptimalkan kembali untuk kepentingan pertanian.
Demikian juga dengan lahan yang mengalami kendala irigasi ataupun kawasan rawa yang memungkinkan untuk dikembangkan. Infrastruktur dan pengelolaan lahannya dapat diperbaiki sehingga kembali produktif dan bisa ditanami padi.
Khusus TNI Angkatan Darat, salah satu fokus pendampingan di sektor pertanian adalah komoditas padi. Sasarannya adalah sawah-sawah masyarakat.
Kita berharap hasil produksi pertanian terus meningkat sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar semakin berkurang.
Selain itu, kita juga ikut mengawal kebijakan pemerintah terkait pembelian gabah petani agar harga di tingkat petani tetap memberikan manfaat dan tidak jatuh ketika musim panen.
Kita juga melakukan pengawalan terhadap pelaksanaan program dan operasi pasar di lapangan. Harapannya, ketika petani memasuki masa panen, harga tetap stabil sehingga mereka mendapatkan manfaat ekonomi yang layak dari hasil pertaniannya.
Q12. Dalam mendukung ketahanan pangan, apakah Kodim juga melakukan pendampingan kepada petani, pengembangan lahan pertanian, peningkatan produksi pangan atau pemanfaatan lahan tidur? Apa hasil yang sudah terlihat sejauh ini?
Letkol Doni Prasetyo:
Tugas Kodim tidak hanya terkait program cetak sawah maupun optimalisasi lahan, tetapi juga melakukan pendampingan kepada para petani.
Babinsa yang berada di setiap wilayah kita berikan tugas untuk mendampingi masyarakat. Jika ada petani yang membutuhkan pengetahuan atau pendampingan mengenai cara bercocok tanam agar hasilnya lebih maksimal, Babinsa dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk menghadirkan penyuluh pertanian.
Dengan adanya penyuluhan tersebut, diharapkan pengetahuan dan kemampuan petani dapat meningkat.
Untuk lahan yang masih tidur, kita juga mendukung program optimalisasi lahan maupun cetak sawah. Apabila tersedia dukungan anggaran dan program, lahan-lahan yang belum produktif dapat direvitalisasi sehingga bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat untuk bercocok tanam.
Dengan demikian, lahan yang sebelumnya tidak menghasilkan dapat memberikan dampak ekonomi. Masyarakat bisa mengolahnya, menghasilkan produk pertanian, sekaligus memperoleh tambahan penghasilan.
Harapannya, masyarakat di tingkat bawah juga dapat merasakan manfaat dari program ketahanan pangan dan pada akhirnya mampu meningkatkan perekonomian di wilayahnya.
Q13. Kabupaten Landak memiliki potensi besar di sektor pertanian. Bagaimana Bapak melihat peluang sinergi antara TNI, pemerintah daerah, kelompok tani dan masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan yang tidak hanya bersifat program jangka pendek?
Letkol Doni Prasetyo:
Pemerintah saat ini memiliki perhatian yang besar terhadap sektor pertanian. Berbagai pihak juga memiliki kepedulian yang sama terhadap persoalan pertanian dan ketahanan pangan.
Kami dari TNI tetap mendukung pemerintah daerah yang ada di Kabupaten Landak.
Termasuk dalam persoalan tata niaga dan penggilingan padi. Jangan sampai kondisi tersebut hanya menguntungkan segelintir pihak atau tengkulak, sementara ekonomi petani di tingkat bawah justru tidak mendapatkan manfaat yang optimal.
Karena itu, kami berharap TNI dapat terus mengawal dan membantu pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani.
Petani harus semakin maju dan memiliki semangat untuk terus bercocok tanam. Kalau petani sejahtera, tentu ketahanan pangan di daerah juga akan semakin kuat.
Q14. Selain ketahanan pangan, TNI juga terlibat dalam pencegahan dan penurunan stunting. Seperti apa bentuk keterlibatan Kodim 1210/Landak dalam persoalan stunting yang berkaitan langsung dengan kualitas generasi masa depan?
Letkol Doni Prasetyo:
Kalau kita berbicara mengenai masa depan Indonesia, pemerintah sering menyampaikan tentang cita-cita menuju Indonesia Emas 2045. Kita akan menghadapi bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif akan lebih besar dibandingkan usia nonproduktif.
Bonus demografi tersebut harus dimanfaatkan dengan baik. Kalau tidak, justru bisa menjadi persoalan.
Stunting sendiri bukan persoalan yang baru. Dalam setiap pelaksanaan TMMD, terdapat sasaran nonfisik, salah satunya penyuluhan kepada ibu hamil dan ibu menyusui.
Kita berharap melalui edukasi tersebut dapat dilakukan pencegahan sejak dini terhadap risiko stunting pada anak.
Persoalan stunting juga harus diperhatikan sejak anak masih berada dalam kandungan. Asupan gizi ibu selama kehamilan sangat penting. Setelah anak lahir, kebutuhan gizi dan perawatan pada masa bayi dan balita juga tidak boleh diabaikan.
Program-program tersebut kita dukung karena TNI, khususnya melalui pembinaan teritorial, bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Kita membantu pemerintah daerah dalam menyukseskan program pencegahan dan penanganan stunting.
Harapannya, ke depan tidak ada lagi anak-anak kita yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat stunting. Mereka harus tumbuh sehat, memiliki kualitas yang baik dan mampu bersaing ketika Indonesia memasuki era Indonesia Emas.
Bonus demografi tidak boleh kita sia-siakan. Kita ingin generasi muda memiliki kualitas yang baik.
Sebagai TNI, kita tentu merasa senang apabila masyarakat sejahtera. Kita melaksanakan tugas dengan ikhlas karena yang paling penting adalah masyarakat mendapatkan manfaat.
Q15. Menurut Bapak Dandim, apa yang menjadi tantangan utama dalam menurunkan angka stunting di daerah, dan bagaimana sinergi antara TNI, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa serta keluarga dapat diperkuat?
Letkol Doni Prasetyo:
Yang pertama adalah pengetahuan dan kesadaran masyarakat itu sendiri.
Kita tidak bosan-bosannya berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan dinas kesehatan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga asupan gizi, terutama bagi ibu hamil dan ibu yang sedang menyusui.
Harapannya, tidak ada lagi anak-anak kita yang mengalami stunting dan ke depan kita memiliki generasi yang kuat serta berkualitas.
Kami juga memberikan perintah kepada para Babinsa untuk ikut mendata anak-anak yang mengalami stunting, termasuk mendata ibu hamil dan ibu menyusui di wilayah binaannya.
Masyarakat perlu diberikan informasi sejak dini mengenai apa itu stunting dan bagaimana cara mencegahnya.
Karena itu, sinergi antara TNI, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa dan keluarga harus terus diperkuat.
Pencegahan tidak bisa hanya dilakukan setelah anak mengalami stunting. Edukasi dan perhatian harus dimulai sejak masa kehamilan, kemudian dilanjutkan pada masa bayi dan balita.
Dengan kerja sama semua pihak, kita berharap angka stunting dapat terus ditekan dan anak-anak di Kabupaten Landak dapat tumbuh sehat serta memiliki masa depan yang lebih baik.
PENUTUP
Ketahanan pangan dan penanganan stunting menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, tetapi juga menyangkut kesejahteraan masyarakat dan kualitas generasi penerus.
Melalui peran Babinsa, pendampingan kepada petani, dukungan terhadap optimalisasi lahan serta edukasi kepada masyarakat, Kodim 1210/Landak berupaya mengambil bagian dalam program pembangunan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Sinergi antara TNI, pemerintah daerah, kelompok tani, tenaga kesehatan, pemerintah desa dan keluarga menjadi kunci agar berbagai program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi memberikan dampak yang berkelanjutan.
Bagi Kodim 1210/Landak, karya bhakti bukan hanya tentang hadir di tengah masyarakat, tetapi bagaimana kehadiran tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan masa depan generasi Kabupaten Landak. (Bersambung IV)














