JOMBANG, LANDAK NEWS — Perjalanan kami di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menghadiri rangkaian kegiatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Di sela perjalanan, kami menyempatkan diri mengunjungi sejumlah tempat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi warga Nahdliyin.
Setelah mengunjungi tempat religi sebelumnya, perjalanan kami berlanjut menuju Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang. Bagi kami, kunjungan ini bukan sekadar perjalanan menuju sebuah pesantren, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenang jejak perjuangan para ulama dalam membangun pendidikan Islam dan membesarkan Nahdlatul Ulama.
Mamba’ul Ma’arif Denanyar merupakan salah satu pesantren tua yang memiliki sejarah panjang. Pesantren ini didirikan oleh KH Muhammad Bisri Syansuri bersama Nyai Hj. Noor Khodijah pada 1917. Dari tempat inilah tradisi keilmuan, pendidikan pesantren, dan pengabdian kepada masyarakat terus berkembang dari generasi ke generasi.
Yang menarik, suasana di kawasan pesantren ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Setiap hari, peziarah dan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia datang silih berganti. Ada yang datang untuk berziarah, mengikuti kegiatan keagamaan, menuntut ilmu, maupun sekadar mengenang perjuangan para ulama yang pernah mengabdikan hidupnya di tempat ini.
Bagi para peziarah, Denanyar bukan hanya sebuah lokasi. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang sejarah Islam dan NU di Indonesia.
Langkah demi langkah di lingkungan pesantren seakan membawa kami pada cerita masa lalu—tentang kesederhanaan para kiai, ketekunan para santri, serta perjuangan membangun pendidikan yang kemudian memberikan pengaruh luas bagi masyarakat.
Kunjungan ini juga mengingatkan kami bahwa perjalanan religi tidak semata-mata tentang mendatangi sebuah tempat, tetapi tentang mengambil pelajaran dari sejarah dan perjuangan orang-orang terdahulu.
Dari Denanyar, kami membawa satu kesan yang kuat: tradisi ilmu dan perjuangan para ulama masih hidup dan terus diwariskan. Tidak mengherankan jika hingga hari ini Mamba’ul Ma’arif Denanyar tetap menjadi salah satu tujuan yang tidak pernah kehilangan peziarah.
Bagi kami, perjalanan ke Mamba’ul Ma’arif Denanyar menjadi bagian penting dalam rangkaian perjalanan di Jombang—sebuah perjalanan yang bukan hanya mempertemukan kami dengan tempat, tetapi juga dengan sejarah, doa, dan jejak panjang perjuangan para ulama.
Dari Denanyar, Jombang, kami belajar bahwa sejarah tidak selalu tersimpan dalam buku. Kadang, sejarah hidup di pesantren, di makam para ulama, dan dalam langkah para peziarah yang datang tanpa henti. (oNe)














