Home / Internasional

Selasa, 28 April 2020 - 04:16 WIB

WHO Sebut Pandemi Covid-19 Masih Jauh dari Berakhir

 JAKARTA –  Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Gehebreyesus mengingatkan kembali bahwa perkembangan pandemi Covid-19 di seluruh dunia saat ini masih jauh dari berakhir.

Ia mengatakan WHO akan terus meningkatkan kepedulian meningkatnya laporan kasus Covid-19 di Afrika, Eropa timur Amerika Latin, dan beberapa negara Asia.

“Pandemi ini masih jauh dari berakhir. Beberapa negara, kasus dan angka kematiannya tidak dilaporkan karena kapasitas pengujian yang rendah,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor pusat WHO di Jenewa, Senin (27/4) seperti dilansir CNN.

Untuk itu ia mengatakan HWO akan terus memberikan dukungan peningkatan kapasitas pengetesan dan penyediaan alat pelindung diri (APD) ke Afrika, Asia, dan negara-negara lain di dunia.

Baca juga  Indonesia Kecam Keras AS karena Pindahkan Kedutaan ke Yerusalem

Ia mengatakan akan mengirim APD ke sekitar 105 negara dan perlengkapan laboratorium ke sekitar 127 negara. Bantuan tersebut akan dikirimkan melalui jalur udara dan laut mulai pekan depan.

Sebagai upaya mencegah gelombang dua pandemi, ia menyerukan agar warga bersatu untuk membentuk solidaritas global.

“Virus ini tidak akan bisa dikalahkan jika kita tidak bersatu. Solidaritas, solidaritas, olidaritas. Kami akan mengatakan itu setiap hari,” ujarnya.

WHO sebelumnya juga mengeluarkan pernyataan yang terkait bukti kesembuhan pasien Covid-19 yang bisa kebal terhadap virus serupa.

“Saat ini belum ada bukti bahwa orang yang telah sembuh dari #Covid-19 dan memiliki antibodi [dalam tubuh] terlindungi dari infeksi selanjutnya,” demikian pernyataan WHO seperti dikutip dari AFP.

Baca juga  Trump Didakwa: Mantan Presiden AS Pertama yang Dijerat Kasus Kriminal

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah rencana banyak negara untuk melonggarkan hingga mencabut kebijakan penguncian wilayah (lockdown) setelah kasus baru virus corona mulai menurun.

Atas wacana tersebut, WHO memperingatkan belum ada penelitian dengan hasil meyakinkan bahwa tak mungkin ada infeksi corona yang kedua pada seseorang.

“Penggunaan sertifikat dan sejenisnya seperti itu justru memungkinkan peningkatan risiko transmisi [virus] berlanjut lagi,” demikian peringatan WHO.

Data statistik yang dirilis John Hopkins University hingga kini ada 3.012.484 kasus virus corona dengan kematian sebanyak 208.517 secara global. (CNNI)

Share :

Baca Juga

Internasional

Studi Baru: Perokok Berisiko Lebih Tinggi Dirawat Inap dan Meninggal Karena COVID-19

Internasional

Segini Modal Asing yang Keluar dari RI Setelah Trump Menang Pilpres AS

Internasional

Kommersant: Tujuh Pesawat Rusia Hancur Ditembak di Suriah

Internasional

Retno Marsudi Singgung Penembakan Tentara UNIFIL oleh Israel dalam KTT ASEAN-Amerika Serikat

Internasional

KTT APEC Selesai, Prabowo Diberi Selendang hingga Salaman dengan Presiden Peru

Internasional

Puluhan Ribu Warga AS Tewas Overdosis Fentanyl China, Senat Usulkan Sanksi baru

Internasional

Sekjen PBB Minta Myanmar Berikan Status Legal pada Muslim Rohingnya

Internasional

Demo Besar Landa 700 Kota di AS Tuntut Kontrol Senjata
error: Content is protected !!