Home / Nasional

Rabu, 5 April 2023 - 10:09 WIB

Gus Yahya soal Potensi Lebaran NU dan Muhammadiyah Berbeda: Ndak Masalah

 Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (batik hijau) berbicara saat wawancara terkait 1 Abad NU di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/1/2023). Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden

Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (batik hijau) berbicara saat wawancara terkait 1 Abad NU di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/1/2023). Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden

Yogyakarta – Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah atau lebaran antara Muhammadiyah dan NU kemungkinan akan berbeda.

NU menentukan Idul Fitri berdasarkan metode rukyatul hilal bil fi’li yaitu upaya melihat hilal secara langsung.

Sedangkan Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal atau Idul Fitri atau Lebaran jatuh pada hari Jumat 21 April 2023.

“Ndak masalah, dari dulu juga nggak papa,” kata Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya ditemui di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (4/4).

Perbedaan tanggal Idul Fitri ini juga sempat diutarakan Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

“Saling menghargai, menghormati, toleran dengan perbedaan jika hal itu terjadi,” kata Haedar saat di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta awal Februari silam.

Baca juga  LBH IWO Resmi Berdiri Dipimpin Sandy Nayoan

Penetapan ini berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Sementara 1 Zulhijah jatuh pada Senin 19 Juni, Hari Arafah jatuh pada Selasa 27 Juni dan Idul Adha pada Rabu 28 Juni.

Ribuan umat Islam di Kota Palembang melaksanakan Shalat Idul Adha di Bundaran Air Mancur (BAM) Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (10/7/2022). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO© Disediakan oleh Kumparan Ribuan umat Islam di Kota Palembang melaksanakan Shalat Idul Adha di Bundaran Air Mancur (BAM) Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (10/7/2022). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO
Perbedaan, menurut Haedar, sudah sering terjadi sebelum-sebelumnya. Sehingga jangan dianggap sebagai sesuatu yang baru, perbedaan sudah menjadi hal yang biasa.

Baca juga  Jokowi Minta Menteri Kabinet Indonesia Maju Tidak Korupsi

“Maka jangan dianggap sebagai sumber perpecahan. Jangan dianggap sebagai sumber yang membuat kita umat Islam dan warga bangsa lalu retak,” jelasnya.

Menurut Haedar, inti dari semuanya ini adalah ibadah. Perbedaan apa pun semakin memperkokoh diri sebagai Muslim secara pribadi atau umat Islam secara kolektif.

“Jadikan semua itu proses ibadah yang membuat kita semakin dekat kepada Allah, berbuat baik dalam kehidupan dan menjadikan diri kita semakin lebih baik lagi,” ujarnya.

Sumber: Kumparan

Share :

Baca Juga

Nasional

Sri Mulyani: Peringatan bahwa Ekonomi Dunia dalam Bahaya, Bukan Hal Berlebihan

Nasional

Kementerian Kesehatan RI Laporkan Kasus Cacar Monyet Pertama di Indonesia

Nasional

Prabowo: Banyak Ketum Parpol Ajukan Calon Menteri dari Kalangan Profesional

Nasional

Gunung Merapi Meletus

Nasional

KPU Tetapkan 17 Partai Peserta Pemilu 2024

Nasional

Jokowi Setelah Purnatugas Makan Tongseng dan Gulai Kambing, Tanpa Pengawalan Ketat

Nasional

Jokowi: Masalah Daftar Pemilih Selalu Berulang Setiap Pemilu

Nasional

8 Cara Cek Kartu Keluarga Online Terbaru, Tak Perlu Antre
error: Content is protected !!