Home / Nasional

Minggu, 4 Agustus 2024 - 08:00 WIB

Mengapa Pariwisata Indonesia Tertinggal Jauh dari Singapura?

Wisatawan menikmati indahnya suasana matahari terbenam di Pantai Canggu, Bali, 2 Desember 2021. (Johannes P. Christo/REUTERS)

Wisatawan menikmati indahnya suasana matahari terbenam di Pantai Canggu, Bali, 2 Desember 2021. (Johannes P. Christo/REUTERS)

VOA – Baru-baru ini beredar luas sebuah video di media sosial yang memperlihatkan seorang ibu asal Pekanbaru mengungkapkan mengapa ia cenderung berlibur atau berakhir pekan di Singapura ketimbang Jakarta. Ia mengungkapkan berbagai hal yang dapat dilakukannya dengan mudah, murah dan nge-trend di Singapura, dibanding kota besar seperti Jakarta.

Pengamat pariwisata yang juga pengajar di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, Prof. Azril Azhari, mengatakan kepada VOA, sebuah faktor yang membuat Singapura berhasil menarik minat wisatawan adalah fokus kebijakan pariwisatanya yang sangat tersegmentasi.

“Wisata sudah masuk ke dalam “minat khusus” sekarang ini, satu di antaranya adalah shopping tourism di mana Singapore sudah mengembangkan retailtainment, yaitu retail kombinasi dengan entertainment sehingga shopping-nya mengasyikkan, shopping-nya ada fun-nya juga ada. Di kita sangat kurang, bahkan tidak menjadi perhatian kita,” jelasnya.

Lebih jauh Azril mencontohkan berbagai pengalaman unik yang bisa dinikmati wisatawan saat datang ke Singapura, seperti musium ice cream atau chocolate workshop.

Sementara Fajar Akbar, seorang pemimpin tur yang sudah berpengalaman memimpin perjalanan ke manca negara, menilai harga tiket penerbangan ke Singapura yang lebih murah dibanding tiket penerbangan domestik, membuat tidak saja warga dunia seperti warga China, tetapi juga warga Indonesia sendiri, lebih memilih terbang ke negeri kota itu dibandingkan ke Jakarta atau Bali.

“Kalau bapak melihat salah satu contoh dari Pekanbaru itu ya, ibu-ibu yang sering ke Singapore, karena satu, dari jarak lebih dekat dari Pekanbaru ke Singapore dibandingkan ke Jakarta. Yang kedua soal tiket, Pak! Ini yang masih menjadi masalah di kita, lebih murah tiket ke luar negeri dalam hal ini Singapore dari pada dari Pekanbaru ke Jakarta atau ke Bali. Jadi orang berpikir mendingan saya ke luar negeri,” komentarnya.

Baca juga  BMKG: Apakah Potensi Hujan Masih Terjadi di Awal Februari 2024? Begini Analisisnya POTENSI CUACA JABODETABEK

Asril Azhar juga menyoroti perluasan program pariwisata secara terus menerus yang dilakukan pemerintah Singapura untuk membuat negara berpenduduk sekitar 5,6 juta jiwa ini tetap menarik. Di Orchard Road sepanjang 2,2 kilometer saja, saat ini terdapat lebih dari 5.000 toko, bar dan restoran yang memberi begitu banyak pilihan untuk para wisatawan.

“Nah, kemudian ada lagi yang dikembangkan oleh mereka itu yang disebut beyond shopping in mall, jadi sesuatu di luarnya. Ada sesuatu yang lebih kalau belanja, marilah belanja di Singapore, tetapi Anda tidak shopping saja ada hal yang lainnya yang dirasakan pengunjung.”

Hal lain itu, tambah Azril, adalah kenyamanan dan keamanan ketika berbelanja, berbagai festival yang menawarkan potongan diskon dan keunikan khusus, dan terjaganya multi-kulturalisme.

Selain harga tiket yang lebih murah, Fajar berpendapat ada nilai lebih yang diperoleh dari pengalaman berkunjung ke Singapura untuk wisatawan Indonesia.

“Sekarang paradigmanya, terutama wisatawan Indonesia jalan-jalan ke luar negeri itu bukan lagi untuk belanja sih pak, tetapi lebih kepada eksistensi. Sekarang ada medsos, jadi mereka pengen upload di medsosnya, terus apa namanya, check in, sedang di sini, sedang di sana. Itu menjadi salah satu alasan orang-orang Indonesia lebih memilih Singapore dari pada Indonesia,” jelas Fajar.Sementara promosi wisata Indonesia masih memiliki kelemahan, tambahnya. “Promosi ini yang harus lebih digencarkan lagi. Gaya promosi yang lama-lama sudah harus ditinggalkan! Contoh kita (Indonesia.red) sering melakukan promosi kebudayaan ke luar negeri, ke mana-kemana, tetapi sifatnya, ya sudah, mengadakan pertunjukan tari-tarian dalam pameran. Begitu didatangi dan ditanya orang, tidak ada paket wisatanya.”

Baca juga  Pemerintah Percepat Pengisian Jabatan ASN di Kementerian Baru, Kompetensi Jadi Kriteria Utama

Ia mencontohkan bagaimana saat promosi kebudayaan atau acara-acara khusus, banyak negara membuat beragam paket wisata yang bahkan bisa langsung dipesan saat itu juga.

Kelemahan lain, kata Fajar, adalah kurangnya memanfaatkan media sosial dan pemengaruh (influencer).

Kemenparekraf Galakkan Pembenahan

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan untuk menarik 14,3 juta wisatawan manca negara termasuk 1,5 juta wisatawan asal China, pada tahun 2024 ini. Selain mempersiapkan destinasi pariwisata super prioritas seperti Candi Borobudur di Jawa Tengah, Danau Toba di Sumatera Utara, Pantai Likupang di Sulawesi Utara, Labuan Bajo di NTT, dan Mandalika di NTB; pemerintah juga menggerakkan ribuan obyek wisata lain.

Untuk meningkatkan daya saing di ASEAN, Kemenparekraf menyederhanakan berbagai aturan dan mengurangi pajak hiburan.

Sementara untuk menarik lebih banyak wisatawan China, pemerintah sedang memfinalisasi kebijakan bebas visa, yang diharapkan rampung sebelum akhir tahun ini dan membuat wisatawan China berbondong-bondong datang ke Indonesia. [jm/em]

Sumber: VOAI

Share :

Baca Juga

Nasional

IWO Tolak RUU Penyiaran yang Digodok Komisi I DPR

Nasional

Tokoh Agama di Solo Raya Ingin Jaga Kerukunan Umat Beragama

Nasional

Reaksi Eksil 1965 dan Kerabat pasca Mahfud MD Tegaskan Mereka Tak Bersalah

Nasional

Biodata Raja Dokter Forensik Pembela Guru Supriyani yang Bongkar Luka Anak Aipda WH,Ternyata Dosen

Nasional

KPU Membuka Rapat Koordinasi Fasilitasi Pelaksanaan Debat Keempat Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilu Tahun 2024

Nasional

Setneg Jawab Amien: Kita Butuh Pikirannya, Bukan Cuma Gosip Politik

Nasional

Kenapa Orang Jahat Lebih Sukses?

Nasional

Empat Provinsi Ini Berlakukan Pemutihan Pajak Kendaraan Mei 2023, Catat Jadwalnya
error: Content is protected !!