Home / Internasional

Selasa, 9 September 2025 - 23:25 WIB

Revolusi Gen Z, Kekuasaan Bisa Mereka Tumbangkan

GEN Z jangan dikira hanya main games atau rebahan. Mereka memang jago bikin konten POV: “Aku vs dunia,” tapi jangan salah, ketika kesenangan mereka diusik, mereka bisa berubah jadi mesin revolusi paling kreatif yang pernah diciptakan sejarah. Jangan panggil “aku anak kecil, paman” inilah yang terjadi di Nepal. Simak narasinya, wak!

Begitulah yang terjadi di negeri pegunungan Himalaya yang biasanya kita kenal lewat poster wisata “tempatnya Sherpa dan Gunung Everest.” Semua tampak damai, sampai satu pagi pemerintah iseng-iseng menutup media sosial: Facebook, Instagram, X, Tiktok, YouTube. Pokoknya semua aplikasi yang jadi tempat Gen Z mengungkapkan kegalauan, flexing outfit, atau sekadar upload video kucing. Itu sama saja seperti mencabut Wi-Fi dari kos-kosan mahasiswa menjelang ujian, tindakan kriminal terhadap eksistensi.

Apa yang terjadi kemudian? Jalan-jalan Kathmandu meledak jadi catwalk revolusi. Anak-anak muda berbondong-bondong keluar, bukan dengan senjata, tapi dengan poster, ponsel, dan mental “kita lawan, wak!” Mereka datang seperti pasukan Avatar gabungan. Ada yang pakai outfit retro, ada yang live TikTok sambil demo, ada juga yang bikin koreografi protes. Polisi? Mereka malah kebingungan, karena bukannya menakutkan, protes ini awalnya mirip festival musik indie.

Tapi jangan salah, lama-lama tensinya naik. Gas air mata ditembakkan, peluru karet berdenting, dan bahkan peluru tajam ikut hadir. Tiba-tiba drama berubah jadi tragedi. Ada 19 nyawa melayang, ratusan terluka. Itu bukan lagi demo lucu-lucuan, itu jadi testimoni bahwa kalau negara main-main dengan generasi yang terbiasa marah via comment section, mereka bisa ngamuk langsung di jalanan.

Baca juga  Puluhan Ribu Orang di Seluruh Dunia Protes Vaksin COVID-19, Lockdown

Lalu, tuntutannya meluas. Dari “balikin Instagram gue” jadi “balikin harga diri rakyat.” Dari “gue cuma mau buka YouTube” jadi “turunkan korupsi, hapus nepotisme, tolong kasih gue masa depan.” Hingar bingar #NepoKids viral, isinya sindiran pada anak-anak pejabat yang hidup mewah, sementara pengangguran makin menumpuk. Ironi terbesar, pemerintah menutup platform yang dipakai untuk bersuara, tapi justru di situlah suara jadi lebih keras. Mereka lupa, Gen Z sudah terbiasa main game level hard mode. Ketika dinding kekuasaan ditutup, mereka malah nyari cheat code, turun ke jalan.

Di balik layar, muncul satu nama, Sudan Gurung. Bukan superhero Marvel, bukan juga idol K-pop, tapi pemimpin NGO Hami Nepal yang sukses bikin protes ini terorganisir lewat Discord dan Instagram. Ya, pemerintah nge-ban medsos, tapi para demonstran justru menjadikannya senjata utama. Mereka belajar dari sejarah, revolusi butuh ide, tapi di zaman ini revolusi juga butuh Wi-Fi. Hasilnya? Dalam hitungan hari, Perdana Menteri K.P. Sharma Oli menyerah. Beliau mundur dengan alasan “demi ketenangan negara,” Padahal jelas sekali karena kalah duel sama generasi yang senjatanya cuma meme dan hastag.

Baca juga  Asisten 1 Setda Landak Membuka Kegiatan Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula di SMA 1 Jelimpo

Absurdnya, dunia politik Nepal mendadak seperti episode parodi. Pemerintah sempat cabut larangan medsos, kasih kompensasi pada korban, janji investigasi, tapi rakyat sudah terlanjur sadar, kalau sekali saja mereka bisa bikin perdana menteri resign, apa lagi yang tidak mungkin? Itu seperti gamer yang pertama kali menang melawan boss level terakhir, percaya diri langsung meningkat 300 persen.

Pelajaran besarnya sederhana, jangan pernah remehkan generasi yang kelihatannya cuma sibuk bikin dance challenge. Karena di balik lirik lagu remix itu, ada kemarahan filosofis, “Kami juga manusia, kami juga butuh masa depan, kami juga muak jadi korban nepotisme.” Gen Z Nepal telah menunjukkan bahwa scroll tanpa henti di layar kecil bisa berubah jadi gulungan ombak besar yang meruntuhkan istana kekuasaan. Lain kali ada pejabat yang sok-sokan nge-ban media sosial, ingatlah, kekuatan “like, share, comment” ternyata bisa lebih mematikan dari bom molotov.

(Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar)

Share :

Baca Juga

Internasional

Pimpin Delegasi Indonesia di COP29,Hashim Djojohadikusumo Pikat Pendanaan Hijau EUR 1,2 Miliar

Internasional

AS akan Ambil Tindakan terhadap Saudi pasca Pemangkasan Produksi Minyak

Internasional

Pakar Penyakit Menular AS Ingatkan Bahaya Varian Delta

Internasional

Korban Tewas dalam Serangan Israel ke Gaza Bertambah Jadi 48 Orang

Internasional

Pengadilan Malaysia kembali menyidangkan mantan majikan pekerja Indonesia

Internasional

Serangan Udara Israel Hantam Sekolah PBB di Gaza Tengah, 33 Tewas

Internasional

Indonesia Sediakan Takjil di Masjid Al Aqsa

Internasional

Ratusan WNI Terancam Hukuman Mati di Luar Negeri
error: Content is protected !!