Mobil MBG sedang menurunkan makanan khusus untuk di SMPN 2 Ngabang. (Foto: oNe)
NGABANG, LANDAK NEWS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 2 Ngabang telah berjalan sejak awal pelaksanaannya oleh pemerintah pusat pada Februari 2025. Memasuki tahun 2026, penerima manfaat program tidak hanya siswa, tetapi juga tenaga pendidik di sekolah tersebut.
Kepala SMPN 2 Ngabang, Elia,S.Pd,M.AP mengatakan sekolahnya menjadi salah satu penerima program MBG sejak tahap awal pelaksanaan.
“Setahu saya, sejak awal Februari 2025 kami sudah menerima program MBG. Saat itu penerima manfaat hanya siswa. Memasuki tahun 2026, guru dan tenaga kependidikan juga ikut menerima MBG,” ujar Elia.
Ia menjelaskan, mekanisme pendistribusian makanan berlangsung secara teratur. Setelah kendaraan pengangkut MBG tiba di sekolah, makanan langsung disimpan di tempat yang telah disiapkan. Petugas sekolah kemudian mencocokkan jumlah paket makanan dengan jumlah penerima manfaat.
Selanjutnya, pada waktu istirahat kedua, wali kelas mengoordinasikan pembagian makanan kepada para siswa. Setelah selesai makan, siswa mengembalikan wadah makanan yang kemudian dikumpulkan secara rapi untuk dijemput kembali oleh petugas dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Elia, makanan bergizi gratis dibagikan setiap hari sekolah, kecuali pada hari libur. Menu yang disajikan juga bervariasi sesuai ketentuan pemerintah, mulai dari sayur, telur, daging hingga ikan.
“Menu yang diberikan cukup beragam. Ada sayur, telur, daging, dan kadang-kadang juga ikan,” katanya.
Elia mengakui, kehadiran program MBG membawa dampak positif, terutama dalam mengurangi pengeluaran uang jajan siswa. Sebagian besar siswa memilih mengonsumsi makanan yang disediakan sekolah.
“Memang masih ada beberapa siswa yang tidak makan, dan kami tidak bisa memaksa. Tetapi, sejujurnya yang paling banyak adalah siswa yang mau makan MBG,” tegasnya.
Ia menambahkan, program MBG tidak terlalu memengaruhi tingkat kehadiran siswa di wilayah perkotaan. Namun, bagi siswa yang berasal dari daerah pedesaan, keberadaan program tersebut dinilai turut mendorong semangat mereka untuk hadir ke sekolah.
Dari sisi menu, Elia menilai siswa lebih menyukai lauk berupa daging dan makanan yang digoreng, khususnya ayam goreng. Sementara untuk buah, lengkeng menjadi favorit karena rasanya manis.
“Kalau buah, saya kira hampir semua suka, apalagi kalau ada lengkeng. Jeruk kurang diminati karena rasanya tidak terlalu manis. Anak-anak memang cenderung lebih menyukai makanan yang digoreng dibanding sayuran,” jelasnya.
Menurutnya, program MBG juga sangat membantu para orang tua dalam mengurangi biaya jajan anak selama berada di sekolah.
Terkait kendala distribusi, Elia mengatakan komunikasi antara sekolah dengan pihak SPPG selama ini berjalan cukup baik sehingga setiap persoalan dapat segera dicarikan solusi.
“Pernah ada pertemuan dengan pihak SPPG, meski baru sekali saat awal program berjalan. Kendala biasanya terjadi ketika jam pulang sekolah berubah lebih cepat atau kendaraan pengantar MBG datang terlambat karena masih mendistribusikan makanan ke sekolah dasar,” ungkapnya.
Ke depan, Elia berharap kualitas pelayanan program MBG terus ditingkatkan, terutama dengan menghadirkan menu yang lebih bervariasi dan sesuai dengan selera peserta didik.
“Harapan kami, variasi menu bisa terus ditingkatkan agar anak-anak semakin antusias menikmati makanan bergizi yang disediakan,” pungkasnya. (oNe)








