Home / Uncategorized

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:03 WIB

Lebih Dekat Mengenal Dinas Pendidikan Kabupaten Landak (1)

BAGIAN I — Arah Kebijakan, Pendidikan Dasar dan Pemerataan Pendidikan

LANDAK NEWS — Pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia dan masa depan Kabupaten Landak. Karena itu, pembangunan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari bertambahnya jumlah sekolah atau pembangunan sarana fisik, tetapi juga dari sejauh mana setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang layak dan berkualitas.

Di tengah tantangan geografis Kabupaten Landak yang memiliki wilayah luas dengan karakteristik daerah perkotaan, pedesaan hingga kawasan yang sulit dijangkau, pemerataan pendidikan menjadi pekerjaan yang membutuhkan perhatian dan kolaborasi berbagai pihak.

Persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS), pemerataan guru, kualitas pembelajaran, kondisi sarana dan prasarana, penguatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta kemampuan literasi dan numerasi menjadi bagian dari tantangan yang harus dijawab secara berkelanjutan.

Untuk mengetahui lebih jauh arah kebijakan dan strategi pembangunan pendidikan di Kabupaten Landak, Pimpinan Redaksi Landak News, Heri Irawan, melakukan wawancara langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Landak, Samsul Bahri, S.Pd., M.Si.

Dalam wawancara tersebut, Samsul Bahri memaparkan berbagai program dan kebijakan pendidikan tahun 2026, termasuk upaya penanganan Anak Tidak Sekolah melalui Gerakan Bangkit Anak Putus Sekolah (GERBANG ASA), penguatan PAUD melalui Gerakan Merata Pendidikan Anak Usia Dini (GEMA PAUD), peningkatan kompetensi guru, pemerataan sarana-prasarana hingga transformasi digital pendidikan.

Berikut petikan wawancara selengkapnya:

Pendidikan Landak Bergerak Menuju Pemerataan dan Peningkatan Mutu

Heri Irawan: Secara umum, bagaimana Bapak melihat kondisi dan perkembangan dunia pendidikan di Kabupaten Landak saat ini?

Samsul Bahri: Secara umum, pendidikan Kabupaten Landak terus bergerak ke arah yang lebih baik. Kita sudah memiliki modal yang cukup kuat, baik dari sisi satuan pendidikan, guru maupun program-program peningkatan mutu.

Namun, kita juga harus jujur bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan, terutama pemerataan akses pendidikan, Anak Tidak Sekolah, peningkatan kualitas guru, PAUD, literasi dan numerasi, serta kesenjangan antara sekolah di wilayah perkotaan dan wilayah terpencil.

Karena itu, ke depan kita tidak hanya ingin anak Landak bersekolah, tetapi setiap anak Landak harus memperoleh pendidikan yang berkualitas, di mana pun mereka tinggal.

Semangat kita adalah tidak boleh ada anak yang tertinggal, tidak boleh ada sekolah yang merasa berjalan sendiri, dan tidak boleh ada wilayah yang merasa pembangunan pendidikan belum menyentuh mereka.

Saya melihat pendidikan Landak sedang berada dalam proses transformasi. Kita bergerak dari sekadar memperluas akses menuju pemerataan dan peningkatan mutu.

Ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak sekolah yang kita bangun, tetapi berapa banyak anak yang berhasil kita selamatkan masa depannya melalui pendidikan.

Enam Fokus Prioritas Pendidikan Tahun 2026

Heri Irawan: Apa saja program prioritas Dinas Pendidikan Kabupaten Landak dalam meningkatkan kualitas pendidikan pada tahun 2026?

Samsul Bahri: Pada tahun 2026, prioritas Dinas Pendidikan Kabupaten Landak tidak hanya membangun sekolah, tetapi membangun masa depan anak Landak.

Ada beberapa fokus utama, yaitu penuntasan Anak Tidak Sekolah melalui GERBANG ASA, pemerataan dan peningkatan kualitas sarana-prasarana pendidikan, penguatan PAUD melalui GEMA PAUD, peningkatan kompetensi dan pemerataan guru, penguatan literasi, numerasi dan karakter, serta transformasi digital pendidikan.

Semua program tersebut diarahkan pada satu tujuan besar, yaitu memastikan setiap anak Landak memperoleh hak pendidikan yang berkualitas, di mana pun mereka tinggal.

Jadi, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak sekolah yang dibangun, tetapi berapa banyak anak yang bisa kita pastikan tetap sekolah, belajar dengan baik, berkembang potensinya dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Pemerataan Pendidikan Hingga Wilayah Terpencil

Heri Irawan: Pemerataan akses pendidikan masih menjadi perhatian di daerah. Bagaimana strategi Dinas Pendidikan memastikan anak-anak di wilayah pedesaan dan daerah yang sulit dijangkau tetap mendapatkan pendidikan yang layak?

Samsul Bahri: Strategi kami sederhana, tetapi harus dikerjakan dengan serius: jangan menunggu anak datang ke sekolah, tetapi pemerintah harus memastikan sekolah dan layanan pendidikan hadir mendekati anak.

Kita mulai dari pemetaan wilayah dan anak yang belum terlayani, pemerataan guru, perbaikan sarana-prasarana, penguatan sekolah di daerah terpencil, sampai penanganan Anak Tidak Sekolah melalui GERBANG ASA.

Kami juga membangun kolaborasi dengan camat, kepala desa, sekolah, orang tua dan perangkat daerah lainnya.

Bagi kami, anak yang tinggal di pelosok Kabupaten Landak memiliki hak yang sama dengan anak yang tinggal di pusat kota. Jarak geografis boleh berbeda, tetapi kualitas dan hak memperoleh pendidikan tidak boleh berbeda.

Baca juga  Militer Myanmar Bebaskan Ribuan Demonstran yang Ditahan

Ukuran pemerataan pendidikan bukan hanya berapa banyak sekolah yang kita bangun, tetapi apakah anak-anak di desa dan wilayah terpencil benar-benar bisa bersekolah, mendapatkan guru yang cukup, belajar di tempat yang layak dan memperoleh pembelajaran yang berkualitas.

Sarana dan Prasarana Terus Dibenahi

Heri Irawan: Bagaimana kondisi sarana dan prasarana sekolah di Kabupaten Landak saat ini? Apakah masih ada sekolah yang membutuhkan perhatian khusus?

Samsul Bahri: Secara umum, kondisi sarana dan prasarana pendidikan di Kabupaten Landak terus kita benahi. Pemerintah daerah sudah memberikan perhatian melalui pembangunan ruang kelas baru, rehabilitasi ruang kelas yang rusak, perpustakaan, fasilitas pendukung, meubelair, TIK sampai rumah dinas guru.

Namun, kami juga menyadari masih ada sekolah yang membutuhkan perhatian khusus, terutama sekolah yang berada di wilayah terpencil, sekolah dengan kondisi bangunan yang kurang layak, serta sekolah yang masih kekurangan fasilitas pendukung pembelajaran.

Karena itu, kita tidak bisa menyelesaikan semuanya sekaligus. Kita menggunakan skala prioritas berdasarkan tingkat kerusakan, jumlah peserta didik, kondisi geografis dan urgensi kebutuhan.

Yang ingin kita pastikan adalah tidak ada anak Landak yang belajar dalam kondisi tidak layak. Anak di pusat kota maupun anak di pelosok harus mendapatkan ruang belajar yang aman, nyaman dan mendukung proses pembelajaran.

Tanggung jawab kita juga tidak berhenti ketika bangunan selesai dibangun. Sekolah harus ikut menjaga dan merawat fasilitas tersebut. Setiap rupiah yang kita investasikan untuk sarana pendidikan pada akhirnya adalah investasi untuk masa depan anak-anak Landak.

Penanganan Berdasarkan Data dan Tingkat Kebutuhan

Heri Irawan: Untuk pembangunan dan rehabilitasi sekolah, bagaimana Dinas Pendidikan menentukan skala prioritas sekolah yang harus mendapatkan penanganan terlebih dahulu?

Samsul Bahri: Dalam menentukan sekolah yang menjadi prioritas pembangunan dan rehabilitasi, kami tidak menggunakan pendekatan siapa yang paling banyak mengusulkan, tetapi berdasarkan data dan tingkat kebutuhan.

Kami melihat kondisi bangunan, tingkat kerusakan, aspek keselamatan anak, jumlah peserta didik yang terdampak, kondisi geografis, pemenuhan Standar Pelayanan Minimal, serta pemerataan antarwilayah.

Sekolah yang kondisinya paling mendesak, terutama yang menyangkut keselamatan peserta didik dan keberlangsungan proses pembelajaran, tentu menjadi prioritas pertama.

Demikian juga sekolah di daerah terpencil yang menghadapi keterbatasan sarana dan akses.

Prinsip kami adalah afirmasi berdasarkan kebutuhan. Sekolah yang kebutuhannya lebih mendesak harus mendapatkan perhatian lebih dahulu.

Dengan keterbatasan anggaran, kita harus memastikan setiap intervensi pemerintah benar-benar memberikan manfaat terbesar bagi anak-anak Landak.

Pembangunan juga bukan hanya soal gedung. Setelah dibangun, harus dipastikan fasilitas tersebut digunakan dengan baik, dirawat dan memberikan lingkungan belajar yang aman serta nyaman bagi anak.

Guru Menjadi Ujung Tombak Pendidikan

Heri Irawan: Bagaimana upaya Dinas Pendidikan meningkatkan kualitas dan kompetensi para guru di Kabupaten Landak?

Samsul Bahri: Kami melihat guru sebagai ujung tombak pendidikan. Karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu prioritas Dinas Pendidikan Kabupaten Landak.

Kita tidak ingin pelatihan guru hanya sekadar menjadi kegiatan dan menghasilkan sertifikat, tetapi harus benar-benar berdampak pada perubahan cara guru mengajar dan peningkatan hasil belajar anak.

Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan berbasis kebutuhan, penguatan literasi dan numerasi, kompetensi digital, komunitas belajar, KKG dan MGMP, peningkatan kapasitas kepala sekolah, serta pemerataan kesempatan pengembangan kompetensi sampai ke sekolah-sekolah di wilayah terpencil.

Kami juga mendorong guru untuk terus belajar. Zaman berubah, anak-anak berubah dan teknologi berubah, sehingga cara mengajar juga harus berkembang.

Guru hari ini tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi harus mampu menjadi fasilitator yang membuat anak berpikir, bertanya, berkreasi dan memiliki karakter.

Pada akhirnya, investasi terbesar pendidikan bukan gedung atau komputer, tetapi manusianya. Ketika gurunya berkualitas, peluang anak-anak Landak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas juga semakin besar.

Membangun Budaya Mutu di Sekolah

Heri Irawan: Sejauh mana peran kepala sekolah dan guru dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di masing-masing satuan pendidikan?

Samsul Bahri: Saya melihat kepala sekolah dan guru merupakan dua aktor utama dalam peningkatan mutu pendidikan di satuan pendidikan.

Kepala sekolah adalah pemimpin pembelajaran yang harus mampu menggerakkan seluruh warga sekolah, membina guru, menggunakan data untuk menentukan program perbaikan dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta kondusif.

Sementara guru merupakan ujung tombak yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Karena itu, guru harus terus belajar, meningkatkan kompetensi, memperkuat literasi dan numerasi, memanfaatkan teknologi serta menggunakan hasil asesmen untuk memperbaiki proses pembelajaran.

Baca juga  Polres Landak Gelar Acara Halal Bihalal dan Syukuran Menempati Perumahan Graha Bhayangkara

Kita ingin setiap sekolah di Kabupaten Landak memiliki budaya mutu. Artinya, setiap masalah tidak hanya dicatat, tetapi dicari solusinya. Setiap program tidak hanya dilaksanakan, tetapi diukur dampaknya. Dan setiap guru tidak hanya mengajar, tetapi terus belajar.

Peran Dinas Pendidikan adalah memberikan arah, kebijakan, pendampingan dan dukungan. Tetapi perubahan sesungguhnya terjadi di satuan pendidikan.

Kalau kepala sekolahnya kuat dan gurunya terus belajar, saya yakin sekolah akan bergerak maju dan kualitas pendidikan Landak juga akan meningkat.

GERBANG ASA, Upaya Mengembalikan Anak ke Pendidikan

Heri Irawan: Bagaimana Dinas Pendidikan menangani persoalan anak yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan?

Samsul Bahri: Anak putus sekolah atau Anak Tidak Sekolah merupakan persoalan yang menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Landak.

Karena itu, kita tidak ingin hanya mengetahui jumlahnya, tetapi ingin mengetahui siapa anaknya, di mana anaknya, mengapa dia tidak sekolah dan apa solusi yang paling tepat untuk mengembalikannya ke pendidikan.

Melalui GERBANG ASA atau Gerakan Bangkit Anak Putus Sekolah, kita melakukan pemutakhiran dan verifikasi data, kemudian melakukan penjangkauan sampai ke desa dan keluarga.

Anak yang masih memungkinkan kembali ke sekolah kita dorong kembali ke pendidikan formal. Sedangkan bagi anak yang tidak memungkinkan mengikuti pendidikan formal, kita siapkan alternatif melalui pendidikan kesetaraan.

Yang paling penting, kita tidak bekerja sendiri. Kita membutuhkan dukungan camat, kepala desa, sekolah, PKBM, Dukcapil, Dinas Sosial, orang tua dan seluruh masyarakat.

Persoalan Anak Tidak Sekolah bukan hanya persoalan pendidikan, tetapi juga bisa berkaitan dengan ekonomi, keluarga, administrasi kependudukan dan kondisi sosial.

Target kita sederhana: jangan sampai ada anak Landak yang kehilangan masa depannya hanya karena tidak mendapatkan kesempatan untuk kembali belajar.

Jemput Bola hingga Tingkat Desa

Heri Irawan: Apa langkah konkret Dinas Pendidikan agar anak-anak usia sekolah di Kabupaten Landak dapat kembali bersekolah?

Samsul Bahri: Langkah konkret kami adalah melakukan jemput bola. Kita tidak ingin hanya memiliki angka Anak Tidak Sekolah, tetapi harus tahu siapa anaknya, di mana tinggalnya, mengapa tidak sekolah dan apa solusi yang tepat untuknya.

Melalui GERBANG ASA, kita mulai dari pemutakhiran dan verifikasi data sampai tingkat desa. Setelah itu anak dan keluarganya kita jangkau.

Kalau masih memungkinkan kembali ke sekolah formal, kita kembalikan ke sekolah. Kalau kondisinya tidak memungkinkan, kita siapkan alternatif melalui pendidikan kesetaraan.

Yang tidak kalah penting, setelah anak kembali bersekolah kita tidak boleh lepas tangan. Harus ada pemantauan agar anak tidak kembali putus sekolah.

Karena itu, kami membangun kolaborasi dengan camat, kepala desa, sekolah, PKBM, Dukcapil, Dinas Sosial, orang tua dan masyarakat.

Target kita bukan sekadar menurunkan angka Anak Tidak Sekolah. Target kita adalah mengembalikan anak-anak Landak kepada haknya untuk belajar dan membuka kembali jalan menuju masa depannya.

Pendidikan Landak Harus Semakin Merata dan Berkualitas

Heri Irawan: Apa target dan harapan Bapak terhadap kualitas pendidikan Kabupaten Landak ke depan?

Samsul Bahri: Target saya ke depan adalah pendidikan Kabupaten Landak semakin merata, semakin berkualitas dan semakin inklusif.

Kita ingin tidak ada anak Landak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena faktor ekonomi, jarak, kondisi geografis maupun persoalan lainnya.

Kita ingin menurunkan angka Anak Tidak Sekolah melalui GERBANG ASA, meningkatkan rata-rata lama sekolah, memperkuat PAUD sebagai fondasi, meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi, meningkatkan kompetensi guru dan kepala sekolah, serta memperbaiki sarana-prasarana pendidikan, terutama di wilayah yang masih membutuhkan perhatian.

Tetapi harapan saya lebih jauh dari itu. Saya ingin anak-anak Landak tidak hanya tamat sekolah, tetapi keluar dari sekolah sebagai anak yang memiliki ilmu, karakter, keterampilan, percaya diri dan mampu bersaing di masa depan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai anak Landak.

Karena itu, pendidikan bagi saya bukan hanya tentang membangun sekolah.

Pendidikan adalah tentang membangun manusia.

Gedung bisa kita bangun hari ini, tetapi manusia yang berkualitas akan menentukan masa depan Kabupaten Landak puluhan tahun ke depan.

(Bersambung ke Bagian II — Pendidikan, Sosial dan Penguatan Peran Satuan Pendidikan)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Personil TNI dan Polri Memantau Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Di Desa Tolok

Uncategorized

Bupati Landak Dukung Bukit Angkih Menjadi Ikon Wisata Desa Pawis

Uncategorized

Kunjungi Polsek Meranti, Kapolres Landak Sampaikan Hal Ini

Uncategorized

Menko Luhut Dorong Digitalisasi Agar Penerimaan Negara dari Sawit Maksimal

Uncategorized

Kodim 1210/Landak Rayakan HUT ke-2 dengan Syukuran dan Doa Bersama

Uncategorized

Tips Mengontrol Tekanan Darah untuk Cegah Hipertensi

Uncategorized

Panen Jagung Demplot di Jelimpo Capai 400 Kg, Dukung Program Ketahanan Pangan

Uncategorized

Lakukan Sidak Pasar, Gutmen Pastikan Kebutuhan Pokok Tersedia
error: Content is protected !!