JOMBANG, LANDAK NEWS — Perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, tidak hanya menyajikan dinamika forum musyawarah tertinggi organisasi, tetapi juga memancarkan atmosfer spiritual yang kental.
Di tengah gegap gempita gelaran lima tahunan ini, tradisi ziarah ke makam para pendiri (muassis) NU menjadi potret nyata dari keluhuran adab yang mengakar kuat di kalangan warga Nahdliyin.
Kembalinya forum akbar ini ke tanah kelahirannya, Jombang, disambut antusias sebagai momen napak tilas sejarah. Sejak pembukaan acara, ribuan muktamirin dari berbagai pelosok Nusantara silih berganti memadati kompleks makam para pendiri organisasi berlambang bola dunia dan sembilan bintang tersebut.
Antrean jemaah yang mengalir tertib mencerminkan bagaimana relasi spiritual antara santri, jamaah, dan para mahaguru tetap terjaga melintasi zaman. Bagi para muktamirin, hadir di Jombang terasa seperti pulang ke rahim sejarah berdirinya NU.
Rangkaian pembacaan tahlil, selawat, dan doa bersama yang terus bergema di area makam para masyayikh menegaskan bahwa dimensi adab senantiasa diletakkan di atas segala kepentingan prosedural organisasi.
Tradisi ini memperlihatkan nilai utama jamiyyah: menjaga sanad keilmuan dan keberkahan para ulama terdahulu sebelum melangkah merumuskan arah masa depan NU. (Fikri Misbah)















