Home / Nasional

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 11:17 WIB

Menyusuri Jejak Sayyid Jumadil Kubro, Punjer Wali Songo di Tanah Majapahit

MOJOKERTO, LANDAK NEWS — Perjalanan religi kami akhirnya sampai pada tujuan keempat. Setelah sebelumnya mengunjungi Mamba’ul Ma’arif Denanyar, makam Gus Dur di Tebuireng, dan makam Mbah Sayyid Sulaiman di Mojoagung, perjalanan kami berlanjut menuju Kompleks Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jum’at (28/08/26).

Di tempat inilah terdapat makam yang sangat dikenal oleh masyarakat dan para peziarah, yakni makam Sayyid Jumadil Kubro.

Perjalanan menuju Troloyo terasa seperti membawa kami memasuki lembaran sejarah yang berbeda.

Jika sebelumnya kami banyak bersentuhan dengan sejarah pesantren dan perjuangan ulama pada masa yang lebih dekat dengan kehidupan kita, maka di Troloyo kami seolah diajak menengok jauh ke belakang, ke masa ketika Islam mulai berkembang di tengah lingkungan Kerajaan Majapahit.

Sayyid Jumadil Kubro dan Jejak Wali Songo

Dalam tradisi masyarakat Jawa, Sayyid Jumadil Kubro dikenal sebagai punjer atau leluhur para Wali Songo.

Sejumlah sumber menyebut beliau sebagai tokoh yang memiliki hubungan genealogis dengan beberapa wali besar penyebar Islam di Jawa. Bahkan, ada sumber yang menyebut beliau sebagai sesepuh atau leluhur Wali Songo.

Karena itulah, bagi banyak peziarah, berkunjung ke makam Sayyid Jumadil Kubro bukan hanya perjalanan untuk berziarah, tetapi sekaligus napak tilas sejarah awal perkembangan Islam di tanah Jawa.

Kompleks Troloyo sendiri berada di kawasan yang sangat lekat dengan sejarah Majapahit. Di kawasan ini ditemukan sejumlah makam Islam kuno, yang menjadi salah satu bukti keberadaan komunitas Muslim di sekitar pusat Kerajaan Majapahit pada masa lalu.

Suasana di Dalam Makam
Begitu memasuki area makam, suasana langsung terasa khusyuk.

Para peziarah duduk bersaf memenuhi ruangan.

Baca juga  Jokowi Sentil Harga Minyak Goreng Naik 4 Bulan Tanpa Penjelasan

Sebagian membaca Al-Qur’an, berdzikir, membaca tahlil dan doa. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang datang dalam rombongan besar.

Dari foto yang kami abadikan, terlihat jelas bagaimana para peziarah duduk dengan tenang di sekitar makam. Tidak jauh dari mereka, beberapa peziarah lainnya terus berdatangan dan mengambil tempat untuk berdoa.

Jumlah peziarahnya pun tidak kalah dengan makam Gus Dur di Tebuireng.

Kehadiran mereka datang dari berbagai daerah. Ada yang sengaja memasukkan Troloyo dalam rangkaian perjalanan wisata religi, ada pula yang menjadikan makam Sayyid Jumadil Kubro sebagai tujuan utama.

Suasana tersebut memberikan kesan tersendiri bagi kami.

Di tengah bangunan makam yang dihiasi ukiran kayu, tiang-tiang dengan ornamen tradisional dan suasana khas Jawa, kami merasakan perpaduan yang menarik antara sejarah, budaya dan tradisi keislaman.

Bukan Hanya Satu Makam
Hal lain yang menarik perhatian kami adalah keberadaan sejumlah makam lain di kompleks tersebut.

Nama-nama yang disebut dalam tradisi masyarakat antara lain Syekh Maulana Sekah, Syekh Maulana Ibrahim dan Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Nama-nama tersebut menjadi bagian dari cerita dan identitas budaya yang berkembang di kawasan Troloyo.

Hal ini pula yang membuat perjalanan ke Troloyo terasa berbeda.

Kita tidak hanya menemukan satu makam, tetapi sebuah kawasan yang menyimpan lapisan panjang cerita tentang perjalanan Islam di tanah Jawa.

Ada nama-nama ulama yang terdengar tidak seperti nama masyarakat Jawa pada umumnya. Sebagian dipercaya datang dari luar Nusantara dan kemudian memiliki hubungan dengan perjalanan dakwah Islam di tanah Jawa.

Bagi kami, hal itu menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat secara langsung.

Dari Sini Kami Menutup Perjalanan Religi

Baca juga  PBB: Perubahan Iklim Picu Pemanasan Bumi Lebih dari 1,1 Derajat Celsius

Empat tempat telah kami datangi.

Mamba’ul Ma’arif Denanyar, tempat kami mengenang perjuangan KH Bisri Syansuri.

Tebuireng, tempat kami berziarah ke makam Gus Dur dan para ulama besar keluarga Tebuireng.

Mancilan, Mojoagung, tempat kami berziarah ke makam Mbah Sayyid Sulaiman.

Dan terakhir, Troloyo, tempat kami menyusuri jejak Sayyid Jumadil Kubro yang dalam tradisi masyarakat dikenal sebagai punjer atau leluhur Wali Songo.

Empat tempat tersebut memberikan pengalaman yang berbeda.

Namun semuanya memiliki satu kesamaan: jejak para ulama yang tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Ribuan peziarah datang bukan karena mereka sekadar ingin melihat sebuah makam.

Mereka datang membawa doa, harapan, dan keinginan untuk mengenang para pendahulu yang diyakini telah berjasa dalam perjalanan dakwah Islam.

Bagi kami, perjalanan ini menjadi lebih dari sekadar wisata religi.

Ini adalah perjalanan untuk mengenal sejarah.

Sebab dari makam-makam tua, pesantren dan tempat-tempat yang menjadi tujuan para peziarah, kita dapat melihat bagaimana agama, pendidikan, budaya dan perjuangan para ulama tumbuh dari generasi ke generasi.

Dan akhirnya kami memahami satu hal:

Sejarah tidak hanya tersimpan di dalam buku.

Sejarah juga hidup di tengah masyarakat, di pesantren, di makam para ulama, dan dalam doa-doa para peziarah yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Empat makam telah kami kunjungi.

Empat kisah telah kami temui. Dan dari perjalanan itu, kami pulang membawa lebih banyak cerita daripada ketika kami berangkat.

Jombang–Mojokerto, sebuah perjalanan religi yang meninggalkan kesan mendalam. (oNe)

Share :

Baca Juga

Nasional

Pengamat: Efek Perlambatan Ekonomi China Mulai Berdampak ke Indonesia

Nasional

Wapres JK Akan Hadiri KTT OKI

Nasional

BUMDes Hanya Boleh Satu Tapi BUMDesma Bisa Banyak

Nasional

KPK Tetapkan Wamenkumham Edward Omar Hiariej Sebagai Tersangka Suap

Nasional

Tips Makanan Sehat Agar Berat Badan Terjaga Selama Pandemi Covid-19

Nasional

Komnas Perempuan: Hukuman Mati Tidak Melindungi Siapapun

Nasional

Ngaku Flexing dari Hasil Pinjaman Teman, AKP Agnis yang Bergaji Rp 4 Jutaan Tetap Diproses Hukum

Nasional

Hari Ini Sri Mulyani Umumkan Data Penting APBN Juli 2024, soal Defisit, KUR, hingga Bansos
error: Content is protected !!