Home / Nasional / Uncategorized

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 08:08 WIB

Perjalanan Religi Berlanjut ke Makam Gus Dur, Lautan Peziarah dan Jejak Perjuangan Sang Guru Bangsa

JOMBANG, LANDAK NEWS — Perjalanan religi kami di Kabupaten Jombang berlanjut. Setelah sebelumnya mengunjungi Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar dan berziarah ke makam KH Muhammad Bisri Syansuri, perjalanan kami teruskan menuju salah satu destinasi religi yang paling ramai dikunjungi di Jombang, yakni makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek.

Perjalanan dari Denanyar menuju Tebuireng membawa kami menyusuri suasana khas Jombang, kota yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam dan pesantren di Jawa Timur.

Begitu mendekati kawasan wisata religi makam Gus Dur, suasananya terasa berbeda. Arus peziarah tampak jauh lebih ramai.

Rombongan datang silih berganti dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang datang bersama keluarga, rombongan pesantren, organisasi keagamaan, hingga kelompok wisata religi yang sengaja menjadikan makam Gus Dur sebagai salah satu tujuan utama perjalanan mereka.

Sebelum memasuki kawasan makam, para peziarah terlebih dahulu melewati kawasan yang dipenuhi berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

Di sepanjang kawasan menuju makam, mata kami disuguhi beragam pilihan oleh-oleh dan cendera mata. Mulai dari aksesori, pakaian muslim, kain, sarung, peci, hingga berbagai kerajinan tangan.

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah lukisan kaligrafi yang dibuat dari bambu. Kerajinan tersebut menjadi salah satu buah tangan khas yang dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan setelah berziarah.

Kawasan ini seolah memperlihatkan wajah lain dari wisata religi. Di satu sisi, para peziarah datang untuk berdoa dan mengenang sosok Gus Dur. Di sisi lain, kehadiran ribuan peziarah juga menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar.

Setelah melewati kawasan pertokoan dan pusat oleh-oleh, langkah kami kemudian diarahkan menuju kompleks makam.

Di tempat inilah suasana semakin terasa khidmat

Makam Gus Dur berada di kompleks pemakaman keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng. Di kawasan yang sama juga terdapat makam sejumlah tokoh penting, di antaranya KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta KH Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur.

Bagi kami, ziarah ke makam Gus Dur bukan sekadar mengunjungi tempat peristirahatan seorang mantan Presiden Republik Indonesia.

Gus Dur adalah sosok ulama, tokoh bangsa, dan guru yang meninggalkan pemikiran serta keteladanan yang masih terus dikenang hingga hari ini.

Baca juga  Salah Paham Pasal Zina dan 'Kumpul Kebo' di KUHP

Tidak mengherankan jika makamnya selalu menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai penjuru negeri.

Di tengah ramainya peziarah, kami mencoba sejenak menenangkan diri. Mendoakan Gus Dur, mengenang perjuangannya, sekaligus mengambil pelajaran dari perjalanan hidup seorang tokoh yang pernah memimpin Indonesia dengan cara dan pemikirannya yang khas.

Ada sebuah kesan yang sulit dilupakan dari perjalanan ini

Di sini, antara sejarah, pesantren, perjuangan ulama, wisata religi dan kehidupan ekonomi masyarakat seolah bertemu dalam satu ruang.

Ribuan orang datang dengan tujuan yang sama: berziarah, mendoakan, dan mengenang.

Dari Denanyar menuju Tebuireng, perjalanan kami bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setiap persinggahan membawa cerita dan pelajaran tersendiri.

Jika di Mamba’ul Ma’arif Denanyar kami menemukan jejak perjuangan KH Bisri Syansuri, maka di Tebuireng kami kembali diingatkan pada perjalanan panjang keluarga dan tradisi keilmuan yang melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa.

Jombang memang bukan sekadar kota santri. Ia adalah kota yang menyimpan jejak panjang perjuangan para ulama dan tokoh bangsa.

Dan perjalanan kami belum selesai

Masih ada tempat-tempat lain yang ingin kami datangi, menyusuri satu demi satu jejak para ulama yang telah memberikan warna besar bagi perjalanan Nahdlatul Ulama dan Indonesia.

Perjalanan Religi Berlanjut ke Makam Gus Dur, Lautan Peziarah dan Jejak Perjuangan Sang Guru Bangsa.

Begitu mendekati kawasan wisata religi makam Gus Dur, suasananya terasa berbeda. Arus peziarah tampak jauh lebih ramai. Rombongan datang silih berg

Sebelum memasuki kawasan makam, para peziarah terlebih dahulu melewati kawasan yang dipenuhi berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

Di sepanjang kawasan menuju makam, mata kami disuguhi beragam pilihan oleh-oleh dan cendera mata. Mulai dari aksesori, pakaian muslim, kain, sarung, peci, hingga berbagai kerajinan tangan.

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah lukisan kaligrafi yang dibuat dari bambu. Kerajinan tersebut menjadi salah satu buah tangan khas yang dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan setelah berziarah.

Kawasan ini seolah memperlihatkan wajah lain dari wisata religi. Di satu sisi, para peziarah datang untuk berdoa dan mengenang sosok Gus Dur. Di sisi lain, kehadiran ribuan peziarah juga menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar.

Baca juga  Sekelompok LSM Luncurkan Dana Nusantara untuk Berdayakan Masyarakat Adat Lawan Perubahan Iklim

Setelah melewati kawasan pertokoan dan pusat oleh-oleh, langkah kami kemudian diarahkan menuju kompleks makam.

Di tempat inilah suasana semakin terasa khidmat.

Makam Gus Dur berada di kompleks pemakaman keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng. Di kawasan yang sama juga terdapat makam sejumlah tokoh penting, di antaranya KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta KH Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur.

Bagi kami, ziarah ke makam Gus Dur bukan sekadar mengunjungi tempat peristirahatan seorang mantan Presiden Republik Indonesia.

Gus Dur adalah sosok ulama, tokoh bangsa, dan guru yang meninggalkan pemikiran serta keteladanan yang masih terus dikenang hingga hari ini.

Tidak mengherankan jika makamnya selalu menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai penjuru negeri.

Di tengah ramainya peziarah, kami mencoba sejenak menenangkan diri. Mendoakan Gus Dur, mengenang perjuangannya, sekaligus mengambil pelajaran dari perjalanan hidup seorang tokoh yang pernah memimpin Indonesia dengan cara dan pemikirannya yang khas.

Ada sebuah kesan yang sulit dilupakan dari perjalanan ini.

Di sini, antara sejarah, pesantren, perjuangan ulama, wisata religi dan kehidupan ekonomi masyarakat seolah bertemu dalam satu ruang.

Ribuan orang datang dengan tujuan yang sama: berziarah, mendoakan, dan mengenang.

Dari Denanyar menuju Tebuireng, perjalanan kami bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setiap persinggahan membawa cerita dan pelajaran tersendiri.

Jika di Mamba’ul Ma’arif Denanyar kami menemukan jejak perjuangan KH Bisri Syansuri, maka di Tebuireng kami kembali diingatkan pada perjalanan panjang keluarga dan tradisi keilmuan yang melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa.

Jombang memang bukan sekadar kota santri. Ia adalah kota yang menyimpan jejak panjang perjuangan para ulama dan tokoh bangsa.

Dan perjalanan kami belum selesai.

Masih ada tempat-tempat lain yang ingin kami datangi, menyusuri satu demi satu jejak para ulama yang telah memberikan warna besar bagi perjalanan Nahdlatul Ulama dan Indonesia. (oNe)

 

Share :

Baca Juga

Nasional

Jenis Baru Narkoba, Namanya Flakka

Uncategorized

Personil Polsek laksanakan pengamanan Diparoki Santo Yusuf.

Nasional

Presiden: Indonesia Harus Jadi Pusat Keunggulan Ekonomi Syariah di Tingkat Global

Uncategorized

Warga Desa Tempoak serahkan Senjata Api Jenis Lantak Kepada Personil Polsek Menjalin

Uncategorized

Polsek Meranti Sosialisasikan Penerimaan Calon Anggota Polri TA 2020 di SMA Negeri 1 Meranti

Uncategorized

Tips Kesehatan, Inilah 5 Makanan Lezat Penurun Darah Tinggi, Apa Saja?

Nasional

Pilpres Makin Panas, Banyak Warga Amerika Pengin Pindah Negara

Uncategorized

5 Cara Mengurangi 500 Kalori Setiap Hari Biar Berat Badan Cepat Turun
error: Content is protected !!