Ngabang, Landak News – SETIAP tahunnya, peringatan Hari Santri Nasional selalu membawa atmosfer yang menyejukkan. Momen ini menjadi ruang refleksi bersama yang mengingatkan kita semua pada warisan nilai luhur, budi pekerti, dan keteguhan iman dalam menjaga keutuhan bangsa.
Sebagai bagian dari jajaran struktural yang sehari-hari tinggal dan beraktivitas di Sekretariat PCNU Kabupaten Landak, momen bulan Oktober ini memantik sebuah perenungan personal yang indah bagi saya.
Tumbuh besar dan menimba ilmu di sekolah negeri mulai dari SD Negeri 03 Ngabang, SMP Negeri 02 Ngabang, SMK Negeri 1 Ngabang, hingga menyelesaikan studi sarjana di IAIN Pontianak, mengajari saya satu hal berharga: bahwa ruang pengabdian untuk kemaslahatan masyarakat itu sangat luas dan inklusif.
Nilai historis dari dicetuskannya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari membawa satu pesan abadi yang melintasi zaman. Pesan itu adalah tentang cinta tanah air (hubbul wathan minal iman).
Doktrin mulia ini mengajarkan bahwa semangat keagamaan dan nasionalisme kebangsaan dapat berjalan beriringan secara harmoni tanpa harus dipertentangkan. Spirit inilah yang menjadi energi bagi kita semua untuk terus merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Di tengah dinamika modernisasi hari ini, nilai-nilai keteladanan yang dirawat dalam kultur santri terasa sangat relevan dan menjadi oase yang kita butuhkan bersama dalam kehidupan bermasyarakat:
1. Menjaga Kedamaian dan Saling Menghargai di Ruang Publik
Karakter luhur yang selalu diutamakan adalah pentingnya menjaga lisan, mengedepankan etika, serta saling menghormati kehormatan sesama. Di era informasi yang serba cepat ini, kebiasaan berpikir jernih dan mengutamakan tabayyun (verifikasi informasi) adalah kunci utama untuk menciptakan suasana yang sejuk, damai, dan penuh persaudaraan di tengah-tengah masyarakat.
2. Meneguhkan Prinsip Moderasi Beragama
Kultur Nahdlatul Ulama senantiasa memegang teguh prinsip tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil). Prinsip-prinsip ini adalah pilar penting dalam menjaga keberagaman di Kabupaten Landak. Keunikan ragam suku, budaya, dan keyakinan di daerah kita adalah kekayaan bersama yang harus dirawat dengan sikap saling mendukung dan tenggang rasa.
3. Semangat Belajar dan Terus Berkontribusi
Tantangan zaman hari ini menuntut kita semua untuk terus adaptif terhadap ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
Keseimbangan antara kematangan spiritual dan penguasaan sains modern adalah modal utama untuk membangun daerah. Kita bisa melangkah maju menyongsong masa depan yang gemilang tanpa harus kehilangan jati diri budaya lokal yang penuh dengan nilai kesopanan dan keramahan.
Hari Santri Nasional adalah milik seluruh elemen bangsa yang rindu akan kedamaian dan kemajuan.
Pengalaman hidup saya yang tumbuh melalui jalur pendidikan umum di Ngabang hingga menempuh studi di IAIN Pontianak, dan kini berkesempatan berkhidmah di PCNU Landak, menjadi bukti nyata bahwa semangat pengabdian ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memberikan kemaslahatan bagi umat.
Mari kita bersama-sama memperkuat silaturahmi, menjaga komunikasi yang baik, dan bergotong-royong demi kemajuan Kabupaten Landak yang aman, tenteram, dan penuh keberkahan.
Penulis: Ya’ Hari Purwadi, S.Pd
(A’wan PCNU Kabupaten Landak)









