Oleh : YUMINA AGATHA, S.STP
Ritual padi merupakan satu bentuk kearifan yang begitu melekat dalam kehidupan masyarakat tradisi. Kesadaran akan adanya keterikatan kuat dengan Sang Pencipta, memicu rasa bersyukur atas keberlimpahan padi sebagai kebutuhan pokok bagi penghidupan.
Naik Dango merupakan puncak dari serangkaian ritual perladangan yang dimaksudkan untuk memanjatkan rasa syukur kepada Jubata (Tuhan Yang Maha Tinggi). Dalam tradisi ini juga dipanjatkan doa agar panen tahun mendatang melimpah, dijauhkan dari hama dan bencana. Sebuah tradisi nan sakral sebagai wujud kemesraan manusia, alam dan Tuhan-nya. Dayak Kanayatn meyakini bahwa alam adalah saudara. Selain itu, kesadaran bahwa manusia berasal dari tanah mengharuskan mereka menghormati tanah dan segala yang dihasilkannya.
Untuk merayakan rasa syukur kepada sang pencipta, atas hasil panen yang berlimpah, suku Dayak Kanayatn menggelar ritual Naik Dango. Prosesi adat Naik Dango merupakan bentuk aktualisasi kearifan lokal masyarakat Dayak Kanayatn, Kalimantan Barat, sebagai ritual syukur dan menghargai anugerah Sang Pencipta.
Baik secara tradisional maupun modern, pelaksanaan tradisi ini akan diawali dengan persiapan yang disebut dengan batutuk sehari sebelumnya. Persiapan ini berupa menumbuk padi dengan lesung oleh kaum wanita. Hal ini ditujukan untuk menyiapkan penganan adat untuk disuguhkan keesokan harinya.
Ada upacara yang dinamakan matik dalam batutuk, berupa penyampaian maksud atau hajat kepada Jubata (Tuhan) dan Awa Pama (arwah nenek moyang), agar mendapatkan restu. Dalam upacara ini ada sesaji yang terdiri dari tumpi’ sunguh (sejenis cucur), tungkat atau solekng poe’ (ketan), serta sirih masak. Setelah upacara tersebut akan dilakukan Nyangahatn sebagai inti kegiatan ritual yang berupa pembacaan doa oleh Panyangahatn (imam adat). Doa di lumbung padi ini berisikan mantra-mantra pemanggilan pulang semangat padi yang masih diperjalanan agar berkumpul, sekaligus ucapan syukur dan memohon berkat penggunaan padi di lumbung untuk keperluan pangan. Setelah para Panyangahatn menyelesaikan ritual Nyangahatn, masyarakat Dayak Kanayatn dari berbagai kampung akan menyimpan hasil panen mereka di rumah betang. Para pangayokng atau kontingen menyerahkan hasil panen dengan ragam atraksi yang dihantar oleh para pemuda dan tokoh adat setempat. Secara tradisi, Naik Dango berlangsung cukup panjang, antara bulan April sampai dengan bulan Mei. Karena saat ini telah diakui sebagai salah satu tradisi besar Suku Dayak Kanayatn, maka ada pula penyelenggaraan lebih modern secara besar-besaran yang berlangsung tiga hari , 27-30 April setiap tahun. Naik Dango modern merupakan upacara besar yang sangat meriah. Beragam kegiatan turut mewarnainya. Ada permainan rakyat, kesenian rakyat, serta sajian beragam kreatifitas pemuda-pemuda Dayak Kanayatn. Saking meriahnya, acara ini juga menjadi magnet yang menarik banyak wisatawan, termasuk turis mancanegara. (r)









