Home / Internasional

Kamis, 14 Januari 2021 - 12:36 WIB

Las Vegas, Kota Judi Terbesar di AS Babak Belur karena Corona

Jakarta – Las Vegas, salah satu negara bagian Amerika Serikat yang juga dikenal sebagai kota judi terbesar di negeri Paman Sam babak belur karena tekanan ekonomi yang dipicu pandemi virus corona atau covid-19. Hal ini terjadi karena berbagai pagelaran acara bisnis gagal terselenggara akibat pandemi.

Salah satunya, pameran teknologi terbesar bertajuk Consumer Electronics Show (CES). Pada Januari 2020 atau sebelum pandemi covid-19, perhelatan CES di Las Vegas yang dihadiri 170 ribu peserta dari berbagai daerah menghasilkan perputaran uang US$291,2 juta.

Menurut Gina Muoio, salah satu pekerja pameran, acara itu merupakan perhelatan bisnis penting.

“Hari-hari menjadi sangat panjang, dan Anda berdiri sepanjang waktu. Terkadang Anda bahkan tidak punya waktu untuk makan,” kata Muoio dikutip dari CNN Business, Kamis (14/1).

Tapi semua itu berbalik arah pada Januari 2021. CES 2021 yang semula tetap dijadwalkan akan dihelat secara langsung di Las Vegas Convention Center dengan nilai acara mencapai US$1 miliar, kini hanya diadakan secara digital dengan potensi perputaran uang yang menyusut.

Baca juga  Kata Shin Tae-yong Usai Timnas Indonesia Cetak Sejarah Jadi Satu-satunya Negara Asia Tenggara yang Lolos ke Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026

Masalahnya, dampak gagalnya CES 2021 bukan hanya sekadar perputaran uang bagi para perusahaan yang menjadi anggota pameran. Tapi itu juga berdampak pada orang-orang seperti Muoio yang kehilangan pekerjaan saat tak ada proyek musiman.

Saat ini, ia menjadi salah satu dari 128 ribu orang pengangguran atau 11,5 persen penduduk Las Vegas. Jumlah pengangguran ini sebenarnya perlahan turun dari 34 persen pada April 2020, namun tetap mencekik.

Sebab, sebagian besar orang tidak memiliki asuransi kesehatan dan tunjangan pengangguran. Sementara pekerjaan baru sangat sulit didapat.

“Uang saya perlahan-lahan menetes. Saya kehabisan,” ucapnya.

Di sisi lain, para pemilik hotel juga ikut kesusahan. Padahal, mereka telah membanting harga kamar dari kisaran US$400 menjadi US$25 hingga US$45 per malam.

Baca juga  Raja Keraton Landak Gusti Fiqry Azizurrahmansyah Berkunjung Ke Kediaman Almarhum Nek Ria Kambeh

Namun hal ini rupanya tidak cukup menyelamatkan. Bahkan, hotel-hotel ternama seperti Mirage dan Encore telah menutup hotel mereka karena sepinya permintaan.

Para agen perjalanan juga tak lepas dari jerat krisis ekonomi akibat pandemi. Proyeksinya, kerugian mereka mencapai US$500 miliar pada tahun lalu. Belum lagi tanggungan pajak sekitar US$64,4 miliar yang juga membebani.

Para ekonom melihat prospek pemulihan ekonomi di kota-kota seperti Las Vegas bertumpu pada kepercayaan bahwa pandemi bisa ditangani. Begitu juga dengan vaksinasi.

Ketika itu semua belum terjadi, maka pemulihan ekonomi diperkirakan masih membutuhkan waktu. Sebab, pemulihan ekonomi terganjal oleh minimnya diversifikasi bisnis di satu negara bagian. (CNNI)

Share :

Baca Juga

Internasional

Panel 6 Januari Terbitkan Surat Panggilan Paksa, Tuntut Trump Bersaksi

Internasional

Menlu AS Blinken Nyatakan Komitmen Kuat AS terhadap Indonesia

Internasional

AS, Indonesia, Australia Langsungkan Latihan Militer di Tengah Kekhawatiran Akan China

Internasional

China Pertanyakan Pernyataan Dephan AS pasca Pertemuan Prabowo-Austin

Internasional

Khawatir Potensi Perang Berskala Besar, Indonesia Desak Semua Pihak untuk Menahan Diri

Internasional

Kedutaan Kuba di AS Diberondong Puluhan Tembakan

Internasional

  Muncul Laporan Benny Gantz Akan Umumkan Mundur dari Kabinet Perang Israel

Internasional

Rusia Kerahkan Pasukan pasca Permintaan Bantuan Presiden Kazakhstan
error: Content is protected !!