Home / Politik

Jumat, 14 Oktober 2022 - 09:24 WIB

Bambang Widjojanto: Apa Jaminan Tragedi Pemilu 2019 Tak Terulang Lagi?

Bambang Widjojanto saat sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat (4/6/2019). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Bambang Widjojanto saat sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat (4/6/2019). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta – Pengacara sekaligus mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto mempertanyakan jaminan Pemilu 2024 tak menelan korban ratusan nyawa seperti Pemilu 2019 lalu.

Hal tersebut disampaikan Bambang dalam diskusi yang digelar secara daring. Mulanya, Ia memaparkan soal gelaran Pemilu 2019 yang menelan banyak korban jiwa.

Menurutnya, kasus ratusan orang meninggal dalam penyelenggaraan pemilu maupun pilpres tak pernah ada sebelumnya.

“Peristiwa itu tidak mungkin dihapus di jejak digital, 894 petugas pemungutan suara meninggal dan 15 ribu orang sakit, sebagian besarnya petugas pemungutan suara Pemilu 2019,” ujar Bambang dalam diskusi daring, Kamis (13/10).

“Pertanyaannya adalah ketika nanti pemilu dilakukan secara serentak 2024 dengan komplikasi yang begitu dahsyat, apa jaminannya tragedi kematian itu [pada Pemilu 2019] tidak akan terulang lagi,” imbuh dia.

Baca juga  Tim Gugus Depan Kecamatan Mempawah Hulu Sosialisasikan Surat Edaran Bupati Landak

Ia menjelaskan hasil investigasi Kementerian Kesehatan di 28 Provinsi menyatakan sebagian besar yang terlibat dan meninggal dunia merupakan penderita gagal jantung, stroke, dan penyakit lainnya.

Berkaca dari kejadian tersebut, Bambang mengatakan solusinya adalah keseriusan penyelenggara Pemilu dalam memilih petugas-petugas penyelenggara pemilu yang baik.

“Salah satu jalan keluarnya mungkin adalah apakah proses pemilihan petugas-petugas penyelenggaraan pemilu sudah sungguh-sungguh memperhitungkan alasan kesehatan serta kompetensi soal kemampuannya dia,” katanya.

Sebagai informasi, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman ikut merasa berdosa lantaran dirinya ikut memutuskan pemilu dilakukan secara serentak.Menurut Anwar, penyelenggaraan Pemilu 2019 merupakan yang tersulit di dunia.

“Saya merasa ikut berdosa karena saya ikut memutuskan. Kalau tidak salah sudah 45 orang petugas KPPS dan 15 orang polisi yang meninggal dunia (saat pemilu),” ujar Anwar di Cisarua, Bogor, Senin, 22 April 2019.

Baca juga  Hasil Survei Elektabilitas Pilkada Sumut 2024, Posisi Cagub Terkuat Lengser? Cek Survei Pembanding

Ia menjelaskan salah satu pertimbangan MK ketika memutuskan pemilu serentak adalah efisiensi waktu dan anggaran.

Kendati demikian, Anwar menyebut dalam pelaksanaannya, anggaran pemilu ternyata lebih besar dari perkiraan awal dan mencapai Rp35 triliun.

Lebih lanjut, Anwar tak ingin menyesali keputusan yang telah terlanjur dibuat dan dilaksanakan itu. Namun, dirinya memastikan pelaksanaan Pemilu 2019 bakal menjadi bahan evaluasi ke depan.

“Tapi sudah lah, ini sudah terjadi. Ini bahan evaluasi ke depan. Tugas berat masih menanti kami, saya terus terang selalu berharap mudah-mudahan pemilu ini, terutama pilpres tidak bermuara ke MK,” ujarnya. (pop/pmg)

Share :

Baca Juga

Politik

Peringati HUT ke-2, Partai Gelora Gelar 10 Lomba Berhadiah Total Ratusan Juta Rupiah

Politik

Pengamat: Golkar Tak Ingin Cuma Jadi “Pajangan” di KIM, Berpotensi Pindah Haluan

Politik

Percepat Kekebalan Komunal, Partai Gelora Kolaborasi Gelar Vaksinasi di Bekasi

Politik

Hindari Gesekan Ditengah Masyarakat Selama Proses di MK, HMPI Imbau Agar Mahasiswa Tidak melibatkan diri dalam Kepentingan Politik Elektoral

Politik

Indonesia Bonus Demografi, Anis Matta: Pandemi ‘Membajak’ Mimpi Anak Muda

Politik

Ya’Asurandi Terpilih Kembali Sebagi Ketua DPD PKS Kabupaten Landak

Politik

Real Count KPU 20:00 WIB:Ini Daftar Partai Lolos & Gak Lolos Parlemen

Politik

DPD Golkar Landak Kumpulkan Seluruh Pimcat
error: Content is protected !!