JAKARTA, LANDAKNEWS.ID – India melarang ekspor beras per 21 Juli. Dunia pun ketar-ketir. Maklum saja negara tersebut adalah merupakan eksportir yang menguasai 40 persen beras dunia. Banyak negara-negara yang kontan saja panik, terutama negara yang begitu tergantung dengan beras dan apalagi yang memiliki pepatah “Belum makan kalau belum makan nasi”.
Isu-isu perubahan iklim memang tengah mengguncang semua negara. Bahkan Global Warming sudah berganti jadi boiling warming atau pendidikan global. Negara kita termasuk yang ketar-ketir walaupun India bukan pengimpor beras utama ke Indonesia, takutnya perbuatan India ini latah dicontoh negara-negara penghasil beras untuk mengamankan stok dalam negeri mereka.
Yah Indonesia, negara agraris tengah ketar-ketir, bersama Malaysia, Singapura dan negara-negara yang menjadikan beras sebagai makanan pokok. Negara kita yang dulu sempat swasembada dan dipuja-puji FAO, saat ini sangat rajin mengimpor beras.
Bukan karena lahan-lahan padi kita tidak menghasilkan namun, yang jelas setiap tahun ada sengkarut cadangan beras yang menjadi polemik panas dan diakhiri impor ratusan ribu bahkan jutaan ton beras yang kemudian mendinginkan suasana.
Petani Indonesia memang jumlahnya terus saja merosot. Padahal jumlah penduduk terus bertambah signifikan. Potensi lahan Indonesia begitu luas membentang. Saya kerapkali melakukan perjalanan dinas ke daerah-daerah menemukan desa-desa dan kampung-kampung yang begitu sunyi sepi. Apalagi di daerah pemekaran. Sunyi dan senyap.
Lahan-lahan kosong hanya membisu ditumbuhi ilalang-ilalang yang bahkan terkesan malas untuk sekadar melambai-lambaikan daunnya. Mengapa orang tidak tertarik menjadi petani? Seharusnya tidak perlu saya tanyakan. Pertanyaan basa-basi.
Orang-orang tidak mau hidup susah dengan pendapatan yang tidak seberapa. Sarjana pertanian yang diwisuda setiap tahun bahkan bekerja di sektor-sektor yang membangongkan.
Mereka kerap kerja di Bank, Sales, Bahkan lebih memilih jual pulsa ketimbang terjun jadi petani. Ini hal yang paling lucu di negeri ini. Jelas-jelas sarjana pertanian, namun sama sekali tidak mau bersentuhan dengan pertanian.
Beberapa kali PBB mengumumkan akan adanya kelangkaan pangan. Itu artinya isu-isu produk pertanian menjadi isu seksi untuk digeluti. Menjadi petani modern mungkin bisa meruntuhkan citra petani miskin dan kumuh. Banyak yang membuktikan sekali panen mereka memperoleh ratusan juta ketimbang menjadi budak korporat yang bergaya hedon, bergaji minim dan diuber-uber pinjol. India tengah memakai beras untuk memperlihatkan kekuatannya kepada dunia. “Lu mau ngapain kalau beras saya, saya tahan? Kena loe“.
Semua kampus di Indonesia, baik negeri atau swasta memiliki jurusan pertanian dengan segala atributnya termasuk juga ilmu hama dan tanaman. Sehingga dan harusnya negara kita bisa digerakkan oleh sarjana-sarjana pertanian ini.
Dengan adanya pembatasan ekspor beras dari India, maka sudah seharusnya sarjana-sarjana pertanian untuk merasa tersinggung dan turun langsung mengimplementasikan ilmunya di sawah bukan hanya menjadi teori-teori usang di buku. Untuk apa disebut sarjana pertanian kalau kemudian tidak pernah bersentuhan dengan dunia pertanian? belum valid rasanya dan belum bisa dikatakan sebagai sarjana pertanian kalau ilmunya hanya jadi sekadar plakat.
Dengan keberhasilan India sebagai penghasil beras terbesar di dunia, mungkin saatnya mahasiswa-mahasiswa pertanian KKN di sana. Biaya hidup di India juga sangat murah apalagi di desa-desa. Jika sudah melihat bagaimana negara itu menjelma menjadi juragan beras dunia, maka mereka sarjana-sarjana pertanian itu, bisa menjadi pionir di sentra-sentra padi dan menciptakan lahan-lahan produksi padi yang baru dan tentu saja panen padi di Indonesia akan melimpah ruah.
Para sarjana pertanian yang ada di sudut-sudut bumi NKRI yang lagi sibuk berkhayal jadi budak korporat, ditunggu ketersinggungan kalian untuk segera turun lapangan mengamalkan ilmu yang telah kalian dapat di bangku-bangku kuliah. Sehingga negara kita akan kerapkali swasembada tanpa bergantung dengan ekspor dari negara lain.
Sumber: Kumparan













