Home / Internasional

Minggu, 24 Maret 2024 - 10:12 WIB

143 Nyawa Melayang

Kira-kira nama ini Nasruddin Makhmadrasul, Ismonov Rivozhidin, Shokhinjhonn Safolzoda, dan Nazanov Rusatam, familiar ndak dengan orang Indonesia? Familiar ndak dengan orang Arab?

Pastinya tidak. Nama-nama itulah yang diduga kuat membantai warga Kota Crocus Rusia, malam Jumat kemarin. Sputnik dirilis Antara menyebutkan korban mencapai 143 jiwa. Dibantai dalam hitungan menit saja dengan senapan tempur semi otomatis. Keempat nama itu sudah ditangkap dan ditetapkan tersangka oleh negeri beruang merah. Teror paling sadis di tahun 2024.

Lihat videonya dirilis Aljazera, ngeri wak. Manusia ditembak membabi buta. Siapa saja ada di depannya, anak kecil, orang tua, dewasa, semua dibantai. Hampir tak ada tersisa. Darah berhamburan di mana-mana. Sebuah kekejaman nyata. Nyawa manusia seperti tak ada harganya.

Pasca aksi brutal nan biadab itu, beberapa jam kemudian, ISIS mengumumkan, bertanggung jawab. Lha, kok ISIS menyerang Rusia, bukannya Israel. Spekulasi pun bermunculan. Beragam komentar analis membanjiri ruang publik. Termasuk saya merasa tergelitik ingin nimbrung.

Benarkah ISIS dalangnya? Kelompok teroris paling kejam dan kaya di dunia. Negara Suriah nyaris diambil alih oleh ISIS. Walaupun organisasi yang bercita-cita ingin mendirikan khilafah islamiyah ini sudah hancur, tapi pengikutnya masih banyak. Mereka menunggu momen tepat untuk melakukan teror. Salah satunya di pusat kota Crocus itu.

Suriah bisa kembali normal setelah menyingkirkan ISIS. Rusia lah yang membantu Suriah. Sementara ISIS dibantu Amerika. Bahkan, Donald Trump menuduh Barack Obama yang menciptakan ISIS. Mulai terlihat benang merahnya.

Lalu, konflik Gaza Palestina vs Israel sampai sekarang belum juga usai. Tentara Gaza masih belum mampu ditaklukan Israel seutuhnya. Siapa di belakangnya, Rusia dan Iran. Sementara Israel, anak emasnya Paman Sam. Semakin nyata benangnya.

Baca juga  Infeksi COVID-19 Melonjak, Korsel di Ambang ‘Lockdown’ Besar-Besaran

Terus beralih ke perang Ukraina vs Rusia. Sudah dua tahun lebih belum juga usai. Padahal, kekuatan militer Rusia seperti raksasa melawan semut. Tapi, Ukraina masih mampu bertahan dan belum mau menyerah. Sudah ratusan ribu tentaranya tewas, sejumlah daerahnya juga sudah dikuasai Putin, tetap tak mau menyerah. Di belakang Ukraina ada Amerika dan NATO. Bahkan, sekarang ratusan ribu tentara gabungan NATO sudah berada di perbatasan, siap berperang dengan Rusia. Bisa disimpulkan sementara, aksi teror apapun di muka bumi, dalangnya tak lain, Amerika vs Rusia, dulu Uni Soviet.

Belum percaya ya? Saya akan buka sejarah singkat di mana dunia nyaris terjadi perang dunia ketiga. Dalangnya tak lain Amerika dan Rusia.
1. Perang Semenanjung Korea (1950-1953):
Perang Korea merupakan konflik antara Korea Utara yang didukung oleh Uni Soviet dan Tiongkok melawan Korea Selatan yang didukung oleh Amerika Serikat dan PBB.

2. Krisis Misil Kuba (1962)
Krisis Misil Kuba adalah konfrontasi berbahaya antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang hampir membawa dunia pada perang nuklir. Uni Soviet memasang rudal nuklir di Kuba, yang dipandang sebagai ancaman langsung oleh Amerika Serikat.

3. Perang India-Pakistan (1971)
Perang India-Pakistan 1971 terjadi sebagai hasil dari konflik panjang antara kedua negara tersebut, yang juga melibatkan dukungan dari Uni Soviet kepada India dan Amerika Serikat kepada Pakistan.

4. Perang Yom Kipur (1973)
Perang Yom Kipur melibatkan konfrontasi antara Israel, yang didukung oleh Amerika Serikat, dan koalisi Arab yang didukung oleh Uni Soviet. Konflik ini menunjukkan eskalasi ketegangan antara kedua blok.

5. Insiden Bandara Pristina, Kosovo (1999)
Insiden ini melibatkan konfrontasi antara pasukan Rusia dan NATO di Bandara Pristina selama konflik Kosovo. Kedua belah pihak hampir terlibat dalam pertempuran langsung, menimbulkan ancaman perang yang signifikan.

Baca juga  Pembak Landak Hibah Bangunan Gedung Aula SPN Polda Kalbar, Bupati Karolin : Aula SPN 100% Sudah Bisa Digunakan

6. Insiden Serangan Drone AS terhadap Tentara Iran di Bagdad (2020)
Serangan drone yang dipimpin oleh Amerika Serikat terhadap jenderal Iran, Qasem Soleimani, di Bagdad, Iraq, meningkatkan ketegangan antara AS dan Iran. Hal ini juga menciptakan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah yang dapat memicu konflik yang lebih besar.
m
7. Perang Ukraina-Rusia (24 Februari 2022)
Perang Ukraina-Rusia memuncak pada tahun 2022 dengan invasi Rusia ke Ukraina. Konflik ini menciptakan ketegangan antara Rusia dan barat, terutama Amerika Serikat, dan meningkatkan risiko perang besar antara kedua kekuatan tersebut.

Gimana wak? Lagi-lagi Amerika dan Rusia. Perlahan mulai tercipta blok macam dulu, Blok Barat dan Timur. Bakal muncul lagi era perang dingin. Negara-negara kecil jadi proxy dua kekuatan blok itu. Suriah sudah merasakannya.

Bagaimana dengan negara kita? Dengan sumber daya alam yang melimpah sementara rakyatnya masih suka Bansos, tak menutup kemungkinan jadi proxy juga. Sesama anak bangsa bisa saling bertikai, pada akhirnya negara lain diuntungkan. Sesama anak bangsa saling tuduh. Lho Wahabi, lho komunis, lho Dajjal, teroris, kadrun, ahli bid’ah, saling usir, dsb. Potensi konflik sangat besar. Siapa tahu konflik itu juga diciptakan salah satu blok tadi. Untungnya, rakyat Indonesia masih waras, lebih mengedepankan keutuhan NKRI. Bukan yang lain.

#camanewak

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalimantan Barat

Share :

Baca Juga

Internasional

Teroris di Marawi Memprovokasi Militer Filipina agar Mengebom Masjid

Internasional

EKSODUS CHINA

Internasional

Bos CIA Temui Presiden Prabowo, Pertemuan Digelar Tertutup

Internasional

Apa Alasan Indonesia Belum Masuk BRICS?

Internasional

Indonesia Kecam Keras Serangan Udara Junta Myanmar

Internasional

Bocoran Rapat Kepanikan Rezim Iran: Tuhan Tolong Kami….

Internasional

Internasional

KTT APEC Selesai, Prabowo Diberi Selendang hingga Salaman dengan Presiden Peru
error: Content is protected !!