JAKARTA, Landak News – Daerah-daerah yang tergolong Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) terus menjadi fokus utama Badan Gizi Nasional (BGN) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini bertujuan memperluas akses pangan bergizi bagi masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.
Upaya yang dilakukan BGN meliputi penyaluran paket gizi, penyediaan menu berbasis kearifan lokal, hingga pembangunan dapur satelit untuk menjangkau sekolah-sekolah di daerah terpencil.
Salah satu wilayah yang akan segera merasakan manfaat program ini adalah Desa Koa, Kecamatan Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan rilis resmi BGN, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Koa dijadwalkan mulai beroperasi sekitar April 2025, setelah Hari Raya Idulfitri.
Tantangan Geografis dan Solusi Dapur Satelit
Medan geografis yang berat menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan MBG di wilayah 3T. Di Desa Koa, waktu tempuh menuju pusat distribusi gizi bisa mencapai beberapa jam dengan rute menyeberangi sungai dan jalan berbatu.
Untuk mengatasi kendala tersebut, BGN mengusulkan pembangunan dapur satelit di beberapa titik agar makanan bergizi dapat disalurkan lebih cepat dan efisien ke sekolah-sekolah terpencil.
Menu Gizi Berbasis Budaya Lokal
Selain memperluas jangkauan, BGN juga menekankan pentingnya kualitas gizi dan penerimaan budaya lokal. Kepala BGN Dadan Hindayana mencontohkan penerapan menu khas di Papua Tengah, yang akan mengutamakan bahan pangan lokal seperti ikan, sagu, dan buah-buahan.
“Menu MBG harus sesuai selera masyarakat setempat. Di Papua, misalnya, anggaran per porsi bisa mencapai Rp35 ribu untuk menyesuaikan biaya logistik dan bahan lokal,” ujar Dadan dalam kunjungan kerjanya.
Sumber: Tirto









