Dari Kolam Sederhana hingga Ratusan Kelompok Pembudidaya, Mimpi Mewujudkan Kemandirian Perikanan Belum Pernah Padam
HERI IRAWAN – Ngabang Kab. Landak
Di balik hamparan sawah dan hutan Kabupaten Landak, terdapat ribuan kolam ikan yang menjadi tumpuan harapan banyak keluarga. Dari kolam-kolam sederhana itu, para pembudidaya ikan berusaha memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menghidupi rumah tangga mereka.
Perjalanan budidaya perikanan di Kabupaten Landak memang belum sepenuhnya mulus. Keterbatasan anggaran daerah membuat pengembangan sektor ini belum dapat dilakukan secara maksimal. Meski demikian, semangat para pembudidaya dan pemerintah daerah untuk terus bertahan tidak pernah surut.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Landak, John Elak, ST, mengatakan sektor perikanan budidaya terus menunjukkan perkembangan dari tahun ke tahun, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan.
“Kondisi anggaran daerah memang masih terbatas sehingga kami belum bisa berbuat banyak. Namun kami tetap berharap adanya dukungan dari Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat agar pengembangan budidaya perikanan di Kabupaten Landak dapat dilakukan secara lebih modern,” ujar John Elak saat ditemui Landak News di ruang kerjanya, Rabu (22/7/2026).
Data DPPKP menunjukkan total produksi perikanan Kabupaten Landak mengalami fluktuasi sepanjang 2021 hingga 2025. Pada 2021, target produksi sebesar 925 ton berhasil terlampaui dengan realisasi mencapai 1.090,653 ton.
Untuk sektor perikanan budidaya, pada 2021 target produksi sebesar 890 ton mampu direalisasikan hingga 1.055,943 ton. Empat tahun kemudian, pada 2025, realisasi kembali meningkat menjadi 1.384,425 ton, jauh melampaui target sebesar 909 ton.
Sementara itu, produksi perikanan tangkap juga menunjukkan perkembangan. Pada 2021 realisasi mencapai 34,71 ton dari target 35 ton, sedangkan pada 2025 meningkat menjadi 88,273 ton dari target 31 ton.
Di balik angka-angka tersebut tersimpan kerja keras para pembudidaya yang setiap hari menjaga kualitas air, memberi pakan, hingga menghadapi berbagai risiko seperti perubahan cuaca, penyakit ikan, dan naiknya harga pakan.
Namun tantangan lain juga masih menjadi perhatian.
Tingkat konsumsi ikan masyarakat justru mengalami penurunan. Jika pada 2021 konsumsi ikan mencapai 38,03 kilogram per kapita per tahun, maka pada 2025 turun menjadi 26,93 kilogram per kapita per tahun.
John Elak mengatakan, pemerintah daerah terus berupaya memperkuat sektor perikanan melalui pembinaan sumber daya manusia. Saat ini DPPK memiliki empat penyuluh perikanan berstatus PNS dan satu tenaga PPPK yang mendampingi masyarakat.
Harapan besar juga bertumpu pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perikanan di Kecamatan Jelimpo yang memiliki lahan seluas 5,4 hektare. Di lokasi tersebut, pemerintah memproduksi benih ikan lele, ikan nila, dan ikan mas.
Meski baru menghasilkan tiga jenis benih, John Elak menegaskan pihaknya akan terus berupaya menambah komoditas lain sesuai kemampuan yang dimiliki.
“Ke depan kami ingin menambah jenis benih ikan sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk dikembangkan,” katanya.
Hasil kerja UPT mulai menunjukkan manfaat nyata. Hingga Juni 2026, produksi benih mencapai 193.584 ekor. Produksi tersebut juga memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan penerimaan sekitar Rp19.492.400 pada bulan yang sama.
Luas lahan budidaya ikan di Kabupaten Landak juga mengalami peningkatan, dari 114,2306 hektare pada 2022 menjadi 118,8288 hektare pada 2025. Pertumbuhan itu menjadi sinyal bahwa minat masyarakat terhadap usaha budidaya ikan terus berkembang.
Perkembangan tersebut juga terlihat dari bertambahnya jumlah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Jika sebelumnya tercatat sebanyak 135 kelompok, pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 303 Pokdakan.
Bertambahnya kelompok ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang melihat budidaya ikan sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Meski masih dihadapkan pada keterbatasan fasilitas dan anggaran, harapan untuk memajukan sektor perikanan di Kabupaten Landak tetap hidup. Pemerintah daerah berharap dukungan dari pemerintah yang lebih tinggi dapat mempercepat modernisasi budidaya ikan air tawar melalui bantuan teknologi, peningkatan kapasitas pembudidaya, serta penguatan sarana dan prasarana.
Di tengah segala keterbatasan itu, kolam-kolam ikan di Landak bukan sekadar tempat memelihara ikan.
Ia menjadi simbol ketekunan, harapan, dan keyakinan bahwa dari air yang tenang, masa depan masyarakat dapat terus bertumbuh. (Bersambung)








