Home / Nasional

Kamis, 9 Maret 2023 - 06:52 WIB

Jokowi: Pemenuhan Rencana Strategis Pertahanan 2020-2024 Disesuaikan dengan Anggaran Negara

Presiden Joko Widodo menyaksikan secara langsung acara penyerahan pesawat C-130J-30 Super Hercules dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu, 8 Maret 2023. (Twitter/@jokowi)

Presiden Joko Widodo menyaksikan secara langsung acara penyerahan pesawat C-130J-30 Super Hercules dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu, 8 Maret 2023. (Twitter/@jokowi)

JAKARTA – Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan senantiasa memenuhi standar kekuatan pokok minimum (Mininum Essentials Force/MEF) Rencana Strategis 2020-2024 di bidang pertahanan. Namun, Jokowi menegaskan bahwa pemenuhan tersebut akan disesuaikan dengan anggaran negara.

Jokowi menyampaikan hal itu seusai menyaksikan secara langsung acara penyerahan pesawat C-130J-30 Super Hercules dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (8/3).

“Semuanya disesuaikan dengan anggaran yang kita miliki. Tapi kita memang ingin berusaha agar terpenuhi,” kata Jokowi.

Pesawat C-130J-30 Super Hercules itu dipesan dari perusahaan AS Lockheed Martin Aerospace. Kementerian Pertahanan sendiri sebetulnya memesan lima pesawat. Empat pesawat sisanya akan secara bertahap berdatangan hingga Januari 2024 mendatang.

Menurut Jokowi, pesawat tersebut merupakan pesawat yang cukup canggih, dan mampu mengangkut pasukan penerjun hingga 98 orang atau pasukan biasa hingga 198 orang.

“Dan bisa mengangkut hingga 19,9 ton, artinya ini bagus untuk operasi militer, maupun non militer dan untuk bencana alam juga bisa. Bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia, karena pesawat super Hercules ini bisa terbang 11 jam,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo mengatakan komitmen pemerintahan Jokowi-Ma’ruf di bidang pertahanan merupakan yang paling besar sepanjang sejarah pemerintahan Indonesia. Perlambatan pemenuhan target MEF hingga 2024, katanya, bisa dimengerti mengingat terjadinya berbagai dinamika seperti salah satunya pandemi COVID-19.

Baca juga  BPS: Inflasi Januari Sebesar 2,18 Persen

“Dukungan pemerintahan Pak Joko Widodo, saya lihat dalam sejarah untuk pertahanan, merupakan yang terbesar. Tapi tentu beliau punya prioritas. Kita kemarin mengalami COVID-19 yang sangat bahaya, jadi prioritas beliau adalah keselamatan rakyat,” ungkap Prabowo.

Ia juga mengatakan nantinya seluruh kegiatan perbaikan pesawat Super Hercules ini akan dilaksanakan di tanah air. Hal tersebut mencakup perbaikan dan overhaul berat seperti penggantian center wing box.

Khairul Fahmi, pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), mengungkapkan, secara keseluruhan capaian MEF sampai detik ini belum 70 persen. Hal tersebut, katanya, bisa dipahami mengingat terjadinya pandemi COVID-19 dan ketidakpastian perekonomian global. Namun, mengingat situasi pandemi sudah cukup membaik saat ini, Khairul berharap target MEF yang 100 persen di 2024 bisa terpenuhi.

Pasalnya, menurut Khairul, jika MEF masih jauh dari target, postur pertahanan Indonesia belum bisa dikatakan berada pada level yang diharapkan. “Kita belum bisa mencapai postur pertahanan yang direncanakan, kalau belum sampai (mencapai target MEF). Berarti potensi ancaman belum bisa diantisipasi 100 persen juga. Potensi ancaman dan gangguan keamanan, lalu celah-celah rawan dan kelemahan yang pastinya bisa ditutupi dengan MEF,” ungkap Khairul kepada VOA

Baca juga  Satgas Tangkap Dua Pengguna Surat Palsu Ketarangan Bebas COVID-19

Secara umum, kata Khairul, alutsista Indonesia jika dilihat dari segi jumlah, tipe dan model, sudah cukup lengkap. Namun, sayangnya, secara faktual, kekuatan yang dimiliki oleh Indonesia belum pada posisi siap tempur. “Sekitar 50 persen dari alutsista kita sudah cukup tua, tentu saja tidak bisa dioptimalisasi penggunaannya dibandingkan alutisita yang dalam kondisi baru,” tambahnya.

Menurutnya, faktor utama perlambatan pemenuhan rencana strategis bidang pertahanan di tanah air, diantaranya adalah ruang fiskal APBN yang cukup ketat. Faktor lainnya, menurutnya, adalah tidak adanya keselarasan antara Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan dan Bappenas, sehingga seringkali rencana belanja tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari itu, ke depannya, pemerintah katanya harus bisa menyeleraskan permasalahan tersebut.

“Terutama penyelarasan agenda antara Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan. Kemenhan tugasnya membangun komunikasi dengan negara penyedia atau vendor. Ada problem reputasi nantinya ketika Kemenhan sudah bergerak maju, kemudian ternyata dari Kemenkeu dan Bappenas masih konservatif, ada belum disetujui. Apalagi kalau dikaitkan dengan dinamika kawasan, geo politik termasuk potensi ancaman secara global, ada kebutuhan yang cukup mendesak untuk menyesuaikan rencana pembangunan pertahanan kita,” pungkasnya. [gi/ab]

Sumber: VOA

Share :

Baca Juga

Nasional

Jadwal Siaran Langsung dan Live Streaming Timnas U-16 Indonesia Vs Singapura di ASEAN Cup U-16 2024

Nasional

Pemuda Indonesia Buat Teknologi untuk Prediksi Persebaran Api Kebakaran Hutan

Nasional

Pelunasan Biaya Haji Mulai 16 April, Ini Prosedurnya

Nasional

Keputusan DKPP Memecat Ketua KPU Patut Diapresiasi

Nasional

Menunggu Keseriusan Pemerintah Tuntaskan RUU Perampasan Aset

Nasional

Viral Tukang Bakso di Makassar Didenda Rp 10 M, Minta Pertolongan Presiden

Nasional

Struktur MK Periode 2023-2028: Anwar Usman Kembali Duduki Tahta Ketua

Nasional

Jaksa Kasus Guru Supriyani Kini Makin Disorot,Komjak Pantau Terus dan Wanti-wanti Ini: Hati Nurani
error: Content is protected !!