Home / Nasional

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:21 WIB

Menyusuri Jejak Mbah Sayyid Sulaiman, Makam yang Tak Pernah Sepi Peziarah

JOMBANG, LANDAK NEWS — Perjalanan religi kami belum berakhir. Setelah berziarah ke makam Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, perjalanan kami lanjutkan menuju destinasi religi berikutnya, yakni Makam Mbah Sayyid Sulaiman di Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jum’at (28/08/26).

Dari kawasan Tebuireng, kendaraan kami bergerak menuju arah Mojoagung. Perjalanan kali ini membawa kami semakin jauh menyusuri jejak para ulama dan tokoh penyebar Islam yang menjadi bagian penting dari sejarah Jombang dan Jawa Timur.

Makam Mbah Sayyid Sulaiman berada di kawasan Dusun Rejoslamet, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung.

Tempat ini menjadi salah satu tujuan ziarah yang cukup dikenal dan ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.

Begitu memasuki kawasan makam, suasananya terasa berbeda.

Tidak ada hiruk-pikuk seperti di pusat keramaian. Yang terasa justru suasana teduh dan khusyuk.

Di dalam kompleks makam, para peziarah duduk bersaf. Ada yang membaca Al-Qur’an, berdzikir, bertahlil, dan memanjatkan doa. Sebagian datang bersama rombongan, sementara lainnya datang bersama keluarga.

Dari foto yang kami abadikan, terlihat para peziarah duduk dengan tenang di dalam area makam. Ada yang mengenakan pakaian muslim, sarung dan peci. Sebagian lainnya datang dengan atribut kelompok atau rombongan masing-masing.

Suasana seperti ini membuat kami sejenak melupakan hiruk-pikuk perjalanan.

Kami pun ikut duduk, mengambil waktu untuk berdoa dan mengenang perjuangan seorang ulama yang dipercaya masyarakat sebagai salah satu tokoh penyebar Islam di Jawa Timur.

Baca juga  Terus Merangkak Naik, Inilah Tarif Iuran BPJS Mandiri 2023 Terbaru

Mbah Sayyid Sulaiman dikenal sebagai Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban.

Sejumlah sumber menyebut beliau sebagai tokoh penyebar Islam dan memiliki hubungan dengan jaringan ulama di Jawa Timur. Beliau juga dikenal dalam sejarah sebagai salah satu tokoh yang berkaitan dengan berdirinya Pesantren Sidogiri di Pasuruan.

Tak pernah benar-benar sepi
Satu hal yang menarik perhatian kami adalah aktivitas ziarah yang terus berlangsung.

Makam ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi yang tidak pernah sepi dari peziarah.

Bahkan, pengelola menyebut makam dibuka selama 24 jam. Peziarah datang tidak hanya dari Jombang, tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota.

Pada waktu-waktu tertentu, jumlah pengunjung bahkan bisa mencapai ratusan hingga ribuan orang, terutama ketika rombongan wisata religi datang secara bersamaan.

Menariknya, makam Mbah Sayyid Sulaiman juga kerap menjadi satu rangkaian perjalanan wisata religi dengan makam Gus Dur di Tebuireng. Banyak rombongan setelah berziarah ke Tebuireng kemudian melanjutkan perjalanan ke Mojoagung.

Dan kami pun mengalami perjalanan yang sama.
Dari Gus Dur, kami melanjutkan langkah menuju Mbah Sayyid Sulaiman.

Menyentuh sejarah melalui ziarah,
Bagi kami, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan wisata.

Ada sejarah yang ingin kami kenali. Ada perjuangan para ulama yang ingin kami pahami. Dan ada keteladanan yang ingin kami bawa pulang.

Baca juga  Menkes Ungkap Penyebab Kematian Pasien COVID-19 Isoman

Dari Denanyar, kami mengenang perjuangan KH Bisri Syansuri.

Kemudian di Tebuireng, kami berziarah ke makam Gus Dur dan para tokoh besar keluarga Tebuireng.

Kini, di Mojoagung, kami kembali dihadapkan pada jejak seorang ulama dan pendakwah yang namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Duduk bersama para peziarah di tempat ini memberikan pengalaman tersendiri.

Ratusan tahun telah berlalu, tetapi nama dan perjuangan seorang ulama tetap membuat orang datang dari berbagai penjuru negeri.

Mungkin inilah salah satu makna perjalanan religi.
Bukan hanya tentang sampai di sebuah tempat, tetapi tentang bagaimana perjalanan tersebut membuat kita kembali mengingat sejarah, menghargai perjuangan para pendahulu, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perjalanan kami hari itu akhirnya menjadi rangkaian tiga tempat yang memberikan pengalaman berbeda.

Denanyar — jejak KH Bisri Syansuri.

Tebuireng — jejak Gus Dur dan para ulama besar.

Mojoagung — jejak Mbah Sayyid Sulaiman.

Tiga tempat, tiga kisah, tetapi memiliki satu benang merah:

Warisan ilmu, dakwah dan perjuangan para ulama yang terus hidup hingga hari ini.
Dan perjalanan religi kami di Jombang ternyata belum selesai.

Masih ada jejak ulama lainnya yang menunggu untuk kami kunjungi. (oNe)

Share :

Baca Juga

Nasional

Interviu Evaluasi SPBE 2021, 507 Instansi Pemerintah Dinilai Asesor Eksternal

Nasional

Dua Industri Farmasi Bakal Dipidana BPOM, Kapolda Sumut: Ada Jenis Obat yang Digaris Polisi

Nasional

Saudi Cabut Syarat Kesehatan Umrah RI, Termasuk Vaksin Meningitis

Nasional

KPK Tetapkan Bupati Langkat Sebagai Tersangka Korupsi

Nasional

Rawan Rampok, Polisi Beri Pengawalan Gratis Selama Ramadan

Nasional

Harga Plastik Melonjak, Industri Kemasan Tertekan dan Harga Barang Terancam Naik

Nasional

Prediksi Cuaca Hari Ini: Dampak Bibit Siklon dan 3 Kota Hujan Disertai Petir

Nasional

Direktur Registrasi Obat BPOM Meninggal Dunia
error: Content is protected !!