JOMBANG, LANDAK NEWS – Di tengah gempuran pemberitaan tentang kericuhan yang mewarnai Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, muncul catatan berbeda dari salah satu ulama muda NU, KH Ma’ruf Khozin. Melalui tulisannya, ia mempertanyakan mengapa rangkaian kegiatan keilmuan yang justru mendominasi Muktamar kalah menonjol dibanding pemberitaan seputar kericuhan.
Dalam catatannya, KH Ma’ruf Khozin menuturkan bahwa selama berkeliling kompleks Pondok Bahrul Ulum, ia mendapati Muktamar dipenuhi berbagai forum keilmuan. Selain sidang resmi Bahtsul Masail yang membahas fatwa fikih melalui tiga komisi—Waqi’iyah, Maudhuiyyah, dan Qonuniyah—berlangsung pula sejumlah kajian di luar agenda resmi, mulai dari diskusi bersama tokoh nasional, penjajakan kerja sama riset dan beasiswa antara kampus NU dan Universitas Indonesia, kajian Aswaja, forum dokter NU membahas isu medis terkini, hingga pemberian ijazah sanad keilmuan oleh ulama asal Damaskus serta pameran kitab-kitab karya ulama Nusantara.
Namun menurut KH Ma’ruf Khozin, seluruh kegiatan positif tersebut “kalah viral” dibanding pemberitaan mengenai aksi protes sekelompok massa yang tidak puas dengan aturan pencalonan salah satu kandidat ketua umum. Ia menilai persoalan ini lebih merupakan soal sudut pandang, di mana pembaca yang sejak awal tidak menyukai NU akan lebih mudah menerima narasi negatif, sementara sikap terlalu fanatik pun sama-sama dapat mengaburkan penalaran yang jernih. Ia mengutip sebuah pepatah Arab klasik yang menggambarkan bahwa cinta cenderung menutupi kekurangan, sedangkan kebencian cenderung membesar-besarkan keburukan.
*Menelusuri Fakta di Lapangan*
Penelusuran terhadap pemberitaan sejumlah media nasional menunjukkan bahwa kericuhan yang dimaksud memang benar terjadi. Berdasarkan laporan berbagai media, ketegangan pecah pada Minggu (30/8/2026) siang di sekitar Gedung Serba Guna KH Hasbullah Said, lokasi berlangsungnya Sidang Pleno IV Muktamar. Aksi tersebut dipicu oleh pengesahan aturan mengenai masa iddah politik dalam Peraturan Perkumpulan (Perkum) Nomor 3 Tahun 2025, yang mensyaratkan calon Ketua Umum PBNU telah mengundurkan diri dari jabatan politik sekurang-kurangnya satu tahun sebelum pencalonan.
Aturan tersebut dinilai sejumlah pendukung berdampak pada peluang KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, yang baru mengakhiri jabatannya sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah pada Februari 2026. Ratusan simpatisan yang tidak puas kemudian mencoba menerobos barikade pengamanan menuju ruang sidang, hingga memicu aksi saling dorong dengan petugas keamanan setempat. Panitia lokal Muktamar sendiri menyebut kelompok yang terlibat kericuhan bukan merupakan peserta resmi Muktamar (mu’tamirin).
Di tengah situasi tersebut, sejumlah tokoh NU justru menyerukan sikap tenang. Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tegal, Nawawi Ashari, misalnya, menilai aksi tersebut sebagai bentuk kecintaan kalangan santri terhadap organisasi, sembari tetap mendesak panitia segera mencari jalan keluar agar sidang tidak terus tertunda.
*Kenapa Berita Negatif Lebih Mudah Menyebar?*
Fenomena yang disoroti KH Ma’ruf Khozin sejalan dengan pola umum dalam ekosistem media dan media sosial, di mana konten yang memuat konflik, ketegangan, atau kontroversi cenderung lebih cepat menyebar dibanding konten yang bersifat informatif atau reflektif. Dalam konteks Muktamar NU, gambar dan video kericuhan yang bersifat visual dan dramatis lebih mudah dibagikan ulang di media sosial dibandingkan laporan panjang mengenai jalannya sidang Bahtsul Masail atau forum kajian keilmuan yang berlangsung tenang di ruang-ruang lain.
Kondisi ini turut memunculkan perbandingan di ruang publik antara NU dengan organisasi keagamaan lain yang dianggap lebih tertib dalam menyelenggarakan forum permusyawaratannya. KH Ma’ruf Khozin menanggapi perbandingan tersebut dengan menyebut bahwa NU, sebagai organisasi besar dengan basis massa yang sangat luas dan beragam, memang senantiasa menarik perhatian publik, termasuk dalam sisi-sisi yang menimbulkan kegaduhan.
*Dua Sisi yang Sama-sama Nyata*
Penelusuran ini menunjukkan bahwa baik narasi positif yang disampaikan KH Ma’ruf Khozin maupun laporan mengenai kericuhan sama-sama merupakan bagian dari realitas yang terjadi di lapangan selama Muktamar ke-35 NU berlangsung. Rangkaian agenda keilmuan yang padat tetap berjalan sebagaimana mestinya, sekalipun ketegangan terkait aturan pencalonan sempat memicu gesekan di antara sebagian peserta dan simpatisan.
Perbedaan penekanan dalam pemberitaan pada akhirnya banyak dipengaruhi oleh nilai berita (news value) dari masing-masing peristiwa serta pola konsumsi informasi publik yang cenderung lebih responsif terhadap konten konflik. Terlepas dari perdebatan mengenai proporsi pemberitaan, hasil akhir Muktamar ke-35 NU tetap berjalan hingga tuntas dengan terpilihnya kepengurusan baru PBNU untuk masa khidmah 2026-2031. (FM)














