BAGIAN II: PELAYANAN KESEHATAN DAN PROGRAM UNGGULAN
NGABANG, LANDAK NEWS – Setelah membahas profil dan peran Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Landak pada bagian pertama, Landak News kembali menghadirkan wawancara lebih dekat mengenai berbagai program dan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat.
Dalam wawancara langsung Pimpinan Redaksi Landak News, Heri Irawan, bersama Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Landak, Susi, S.KM., MM, dibahas berbagai langkah strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Mulai dari percepatan penurunan stunting, peningkatan pelayanan di Puskesmas, kesiapan tenaga kesehatan, pencegahan penyakit menular, pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemanfaatan teknologi digital hingga tantangan pelayanan kesehatan di wilayah pelosok Kabupaten Landak.
Berikut wawancara selengkapnya:
1. Apa saja program unggulan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Landak?
Susi, S.KM., MM:
Program unggulan kami fokus pada percepatan penurunan stunting melalui kerja sama dengan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
Selain itu, kami juga mendorong Integrasi Layanan Primer (ILP) di Puskesmas dan Posyandu, percepatan digitalisasi rekam medis melalui Electronic Medical Record (EMR) atau Rekam Medis Elektronik (RME), gerakan percepatan pencegahan Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI/AKB), serta perluasan cakupan Universal Health Coverage (UHC) bagi seluruh warga Landak.
2. Bagaimana upaya Dinkes P2KB meningkatkan kualitas pelayanan di Puskesmas?
Susi, S.KM., MM:
Kami melakukan penguatan standar akreditasi secara berkala, pemenuhan sarana, prasarana dan alat kesehatan, serta standardisasi SOP pelayanan.
Kami juga meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan secara rutin. Selain itu, penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) terus diperkuat dengan pendekatan yang berfokus pada siklus hidup manusia.
3. Bagaimana dengan kesiapan tenaga kesehatan di Kabupaten Landak?
Susi, S.KM., MM:
Secara bertahap kami terus melengkapi redistribusi dan kecukupan jumlah dokter, perawat, bidan, tenaga gizi hingga sanitarian.
Peningkatan kompetensi melalui pelatihan berkelanjutan juga terus dilakukan demi memastikan ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten dan responsif di seluruh wilayah Kabupaten Landak.
4. Apa langkah yang dilakukan untuk menekan angka stunting?
Susi, S.KM., MM:
Pencegahan stunting dilakukan dari hulu ke hilir.
Langkahnya antara lain pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri, pemeriksaan kehamilan atau ANC minimal enam kali dengan USG oleh dokter di Puskesmas.
Kemudian dilakukan pemantauan gizi dan pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan lokal untuk balita dan ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK).
Kami juga melakukan pendampingan terhadap keluarga berisiko stunting bersama kader KB dan PKK.
5. Bagaimana upaya Dinkes P2KB dalam mencegah penyakit menular seperti DBD, TBC, HIV/AIDS, malaria dan rabies?
Susi, S.KM., MM:
Untuk DBD, kami mendorong gerakan 3M Plus dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Untuk TBC, dilakukan penemuan kasus secara aktif atau active case finding serta pendampingan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas.
Untuk HIV/AIDS, dilakukan VCT secara rutin, edukasi kepada kelompok rentan dan upaya mengurangi stigma terhadap penderita.
Untuk malaria, kami berupaya mempertahankan status eliminasi melalui pengendalian kasus impor serta pembagian kelambu berinsektisida di area tertentu.
Sedangkan untuk rabies, kami membangun sinergi lintas sektor, termasuk dengan Dinas Pertanian/Peternakan, dalam penanganan kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) serta penyediaan Vaksin Anti Rabies (VAR).
6. Bagaimana peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA)?
Susi, S.KM., MM:
Kami mendorong agar persalinan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, skrining kehamilan berisiko tinggi dioptimalkan sejak dini. Penyediaan USG di seluruh Puskesmas juga terus diperkuat.
Kami juga meningkatkan sistem rujukan yang terintegrasi antara Puskesmas dan rumah sakit sehingga ibu dan anak dapat memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan.
7. Seperti apa bentuk edukasi kesehatan yang dilakukan secara rutin kepada masyarakat?
Susi, S.KM., MM:
Edukasi dilakukan melalui berbagai saluran.
Di antaranya penyuluhan langsung melalui Posyandu, kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di sekolah dan desa, sosialisasi melalui media sosial, media cetak atau brosur, serta penyuluhan melalui radio dan penyiaran lokal.
8. Sejauh mana pemanfaatan teknologi digital dalam pelayanan kesehatan?
Susi, S.KM., MM:
Kami menerapkan Rekam Medis Elektronik (RME) di fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan regulasi Kementerian Kesehatan.
Selain itu, dilakukan integrasi data laporan kesehatan melalui aplikasi sistem informasi kesehatan nasional serta pemanfaatan sistem digital dalam pengurusan perizinan tenaga kesehatan secara terpadu.
9. Apa kendala terbesar yang masih dihadapi dalam memberikan pelayanan kesehatan?
Susi, S.KM., MM:
Kondisi geografis dan infrastruktur jalan di beberapa wilayah pelosok masih menjadi tantangan.
Selain itu, terdapat keterbatasan sarana transportasi medis untuk wilayah terpencil. Tantangan lainnya adalah masih ditemukannya sebagian masyarakat yang belum memiliki kesadaran untuk memeriksakan kesehatan sejak dini.
10. Sejauh mana sinergi lintas sektor dilakukan dalam pembangunan kesehatan?
Susi, S.KM., MM:
Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, kami membangun kolaborasi erat dengan RSUD dan rumah sakit swasta dalam hal rujukan.
Kami juga bersinergi dengan pemerintah desa melalui alokasi dana desa untuk kesehatan desa dan kader, PKK, organisasi profesi kesehatan, institusi TNI/Polri, serta sektor swasta melalui program CSR.
Sinergi lintas sektor ini sangat penting untuk memperkuat pelayanan kesehatan dan memastikan program kesehatan dapat menjangkau seluruh masyarakat Kabupaten Landak.
(Bersambung Bagian III)














