Pelaksana Tugas (Pj.) Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Ngabang, Marcelina Meriyotin, M.Pd.
Ngabang, Landak News – Pelaksana Tugas (Pj.) Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Ngabang, Marcelina Meriyotin, M.Pd., mengungkapkan bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan manfaat nyata bagi para siswa, khususnya mereka yang tinggal di rumah kos selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Hal itu disampaikan Marcelina saat ditemui di ruang kerjanya di Ngabang, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, kehadiran Program MBG mampu mengurangi beban pengeluaran siswa untuk kebutuhan makan sehari-hari. Jika sebelumnya siswa yang tinggal di kos harus membeli makanan dua kali dalam sehari, kini mereka cukup mengeluarkan biaya untuk satu kali makan karena satu kali makan telah dipenuhi melalui program MBG.
“Program pemerintah ini sangat membantu para siswa, terutama yang tinggal di kos. Beban biaya makan mereka menjadi lebih ringan,” ujar Marcelina.
Ia menjelaskan, saat ini sekitar 1.300 siswa di SMKN 1 Ngabang menjadi penerima manfaat Program MBG. Selain siswa, para guru juga telah menerima makanan melalui program tersebut.
Marcelina menilai proses distribusi makanan kini berjalan lancar.
Makanan biasanya tiba di sekolah sebelum jam istirahat pertama dimulai sehingga dapat langsung dikonsumsi oleh para siswa.
“Distribusi makanan tidak ada kendala. Umumnya makanan sudah tiba sekitar pukul 07.00 WIB. Kalaupun terlambat, biasanya masih datang sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 WIB. Saat jam istirahat pertama dimulai, siswa sudah bisa langsung menikmati makanan,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui pada masa awal pelaksanaan program sempat terjadi keterlambatan pengiriman makanan. Namun, kondisi tersebut hanya berlangsung pada tahap awal dan kini telah teratasi.
“Pada awal pelaksanaan memang sempat ada keterlambatan. Itu hal yang wajar karena program baru berjalan. Setelah itu, distribusi menjadi lebih tepat waktu,” ungkapnya.
Terkait menu makanan, Marcelina mengatakan sajian yang diberikan cukup bervariasi. Meskipun ada sebagian siswa yang sesekali merasa bosan dengan menu tertentu, makanan yang disediakan tetap habis dikonsumsi.
“Menunya bervariasi. Memang ada beberapa anak yang mengatakan bosan, tetapi pada akhirnya makanan tetap habis dimakan,” tuturnya. (One)









