Kepala SDN 10 Ngabang, Mahardi, S. Pd, SD. (Foto: ONe)
NGABANG, LANDAK NEWS — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Ngabang, Kabupaten Landak, berjalan lancar sejak pertama kali diterapkan pada awal Februari 2025.
Kepala SDN 10 Ngabang, Mahardi, S.Pd.SD, mengatakan sekolahnya merupakan salah satu sekolah pertama di Kecamatan Ngabang yang menerima program MBG. Menurutnya, pada awal pelaksanaan memang terdapat sejumlah kendala, namun seiring berjalannya waktu hambatan tersebut dapat diatasi.
“Program MBG di sekolah kami berjalan lancar dan aman. Memang pada awal pertama masuk ada hambatan, tetapi lama-kelamaan berjalan lancar,” kata Mahardi kepada Landak News, Jumat (14/8/2026), di ruang kerjanya.
Ia menjelaskan, pihak sekolah memiliki tim penghubung dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Tim tersebut menjadi penghubung dalam menyampaikan maupun menyelesaikan berbagai kendala yang muncul selama proses pendistribusian makanan.
“Bila ada masalah, lewat tim inilah penyelesaiannya, sehingga masalah yang timbul bisa kita atasi,” ujarnya.
Belum Ada Penelitian Dampak terhadap Prestasi Siswa
Terkait dampak program MBG terhadap semangat belajar maupun prestasi siswa, Mahardi mengatakan pihak sekolah hingga kini belum melakukan penelitian secara khusus untuk mengukur hal tersebut.
“Di sekolah kami kebetulan belum melakukan penelitian. Prestasi belajar atau semangat belajar masih bisa saja,” jelasnya.
Meski demikian, ia menyebut menu makanan yang diterima siswa cukup bervariasi. Menu yang disediakan antara lain ikan, daging, ayam goreng, serta berbagai jenis buah-buahan.
Mahardi mengakui tidak seluruh siswa selalu menghabiskan makanan yang diberikan. Namun, menurutnya, sebagian besar siswa tetap menyantap makanan tersebut.
“Anak-anak pasti ada yang tidak makan. Namun, pada umumnya mereka makan. Jika ada yang tidak makan, diberikan kepada teman-temannya,” katanya.
Waktu Istirahat Perlu Menyesuaikan
Di sisi lain, Mahardi menyampaikan bahwa pelaksanaan MBG juga membutuhkan penyesuaian terhadap waktu istirahat siswa. Proses mulai dari mengambil makanan, menyantap makanan hingga mengumpulkan kembali wadah makanan membutuhkan waktu yang cukup panjang.
“Kalau jam istirahat biasanya 15 menit. Sekarang waktu yang dibutuhkan mulai dari mengambil makanan, makan, sampai mengumpulkan tempat makanan bisa lebih dari 15 menit,” ungkapnya.
Ia berharap pengelolaan program ke depan dapat terus dievaluasi sehingga pelaksanaannya semakin efektif dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Guru Mulai Mendapatkan MBG
Mahardi juga mengungkapkan bahwa pada tahap awal pelaksanaan MBG, makanan yang diberikan hanya diperuntukkan bagi siswa. Namun, sejak awal 2026, para guru di sekolahnya juga mulai mendapatkan makanan melalui program tersebut.
“Kami guru tak lupa mengucapkan terima kasih atas pemberian MBG ini. Sebelumnya guru tidak dapat makanan MBG, masuk tahun 2026 kami-kami dapat makanan MBG juga,” tuturnya, seraya menambahkan adapun jumlah penerima manfaat 739 jiwa.
Ke depan, Mahardi berharap program MBG dapat semakin baik, termasuk dalam hal pengelolaan anggaran. Ia mengusulkan agar mekanisme pengelolaan dana dapat melibatkan orang tua siswa sehingga penggunaannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Menurutnya, keterlibatan orang tua diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan program MBG di sekolah. (oNe)











