BAGIAN II – Kualitas Guru, Pemerataan Tenaga Pendidik dan Tantangan Digitalisasi
LANDAK NEWS — Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya ruang kelas, fasilitas sekolah maupun sarana pembelajaran. Di balik keberhasilan seorang peserta didik, terdapat peran penting guru sebagai tenaga pendidik yang berhadapan langsung dengan proses pembelajaran setiap hari.
Karena itu, peningkatan kualitas dan profesionalisme guru menjadi salah satu kunci dalam membangun pendidikan yang bermutu. Tantangannya tidak sederhana. Kabupaten Landak memiliki wilayah yang luas dengan kondisi geografis dan akses pendidikan yang berbeda antara kawasan perkotaan dan daerah terpencil.
Persoalan pemerataan tenaga pendidik, kebutuhan guru berdasarkan bidang studi, peningkatan kompetensi, hingga pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian dari tantangan yang harus dijawab secara bertahap.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga membawa perubahan dalam dunia pendidikan. Sekolah dituntut mampu beradaptasi, sementara guru dan peserta didik harus dibekali kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara kritis, kreatif, aman dan bertanggung jawab.
Dalam rangkaian wawancara “Lebih Dekat Mengenal Pendidikan Kabupaten Landak”, Pimpinan Redaksi Landak News Heri Irawan berbincang langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Landak, Samsul Bahri, S.Pd., M.Si., mengenai strategi peningkatan kualitas guru, pemerataan tenaga pendidik, pemenuhan guru bidang studi hingga arah digitalisasi pendidikan di Kabupaten Landak.
Guru sebagai Ujung Tombak Mutu Pendidikan
Heri Irawan — Landak News:
Salah satu faktor utama keberhasilan pendidikan adalah kualitas tenaga pendidik. Apa langkah Dinas Pendidikan untuk meningkatkan profesionalisme guru di Kabupaten Landak?
Samsul Bahri — Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Landak:
Kami melihat guru sebagai ujung tombak peningkatan mutu pendidikan. Karena itu, profesionalisme guru menjadi salah satu perhatian utama Dinas Pendidikan Kabupaten Landak.
Upaya yang dilakukan bukan hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membangun budaya agar guru terus belajar dan berkembang.
Kami melakukan penguatan kompetensi pedagogik dan profesional, literasi dan numerasi, kompetensi digital, serta mendorong kegiatan KKG dan MGMP, komunitas belajar, pengembangan karier dan profesionalisme guru.
Kami juga memberikan perhatian terhadap pemerataan kesempatan peningkatan kompetensi, termasuk bagi guru-guru yang bertugas di wilayah terpencil.
Kami ingin pelatihan guru tidak berhenti pada sertifikat. Setelah mengikuti pelatihan, harus ada perubahan dalam proses pembelajaran di kelas.
Guru harus semakin mampu menciptakan pembelajaran yang menarik dan berpusat pada anak, memanfaatkan teknologi, serta memperkuat karakter, literasi dan numerasi peserta didik.
Bagi kami, investasi pendidikan yang paling penting bukan hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga membangun kualitas manusianya.
Gedung sekolah yang bagus membutuhkan guru yang hebat agar dapat menghasilkan anak-anak yang hebat.
Pemerataan Guru Masih Menjadi Tantangan
Heri Irawan — Landak News:
Bagaimana kondisi pemerataan guru antara sekolah yang berada di perkotaan dengan sekolah yang berada di daerah terpencil?
Samsul Bahri:
Kalau melihat secara rata-rata kabupaten, rasio guru dan murid di Landak sebenarnya cukup baik. Namun, kita tidak boleh hanya melihat angka rata-rata.
Persoalan yang kita hadapi adalah distribusi guru. Ada sekolah yang relatif cukup tenaga pendidik, tetapi ada pula sekolah, terutama di wilayah terpencil, yang masih membutuhkan tambahan guru.
Karena itu, yang sedang kami dorong adalah pemerataan berbasis kebutuhan sekolah.
Kami memetakan berapa guru yang dibutuhkan setiap sekolah dan mata pelajaran apa yang masih kurang. Setelah itu, dilakukan penataan dan redistribusi sesuai kebutuhan.
Untuk kebutuhan yang belum dapat dipenuhi melalui redistribusi, kami mendorong pemenuhan melalui formasi PPPK maupun ASN sesuai dengan kebijakan pemerintah.
Untuk daerah terpencil, persoalannya bukan hanya menempatkan guru, tetapi juga bagaimana guru tersebut dapat bertahan dan memberikan pelayanan secara optimal.
Karena itu, sarana pendukung seperti rumah dinas dan akses terhadap pengembangan kompetensi juga menjadi perhatian.
Prinsipnya sederhana: jangan sampai ada sekolah yang gurunya berlebih sementara sekolah lain kekurangan.
Setiap anak di Kabupaten Landak, baik yang berada di perkotaan maupun pelosok, harus mendapatkan guru yang cukup dan berkualitas.
Strategi Memenuhi Kebutuhan Guru Bidang Studi
Heri Irawan — Landak News:
Apakah Dinas Pendidikan memiliki strategi khusus untuk mengatasi kekurangan guru pada bidang studi tertentu?
Samsul Bahri:
Ya, kami memiliki strategi khusus. Kekurangan guru bidang studi tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah guru.
Langkah pertama adalah memetakan kebutuhan secara detail. Kami melihat sekolah mana yang kekurangan, bidang studi apa yang kurang dan berapa jumlah kebutuhan masing-masing sekolah.
Setelah itu, dilakukan penataan dan redistribusi guru sesuai kebutuhan.
Untuk kekurangan yang tidak dapat diselesaikan melalui redistribusi, kami mendorong pengusulan formasi ASN atau PPPK sesuai dengan kebutuhan prioritas.
Khusus sekolah di wilayah terpencil, pendekatannya juga harus afirmatif. Kita tidak hanya memikirkan gurunya, tetapi juga bagaimana guru tersebut dapat bertahan dan memberikan pelayanan dengan baik, termasuk dukungan tempat tinggal dan fasilitas pendukung.
Selain menambah guru, kami juga terus meningkatkan kompetensi guru yang sudah ada melalui pelatihan, KKG, MGMP dan komunitas belajar.
Jadi, strateginya meliputi pemetaan, redistribusi, pemenuhan formasi, peningkatan kompetensi dan evaluasi secara berkelanjutan.
Digitalisasi Pendidikan Harus Dilakukan Secara Berkeadilan
Heri Irawan — Landak News:
Di tengah perkembangan teknologi, sejauh mana pemanfaatan teknologi digital dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah Kabupaten Landak?
Samsul Bahri:
Pemanfaatan teknologi digital di Kabupaten Landak terus kami tingkatkan, baik untuk mendukung pembelajaran, meningkatkan kompetensi guru maupun mempersiapkan siswa menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Namun, kami menyadari bahwa kesiapan setiap sekolah tidak sama. Karena itu, digitalisasi harus dilakukan secara bertahap dan berkeadilan.
Target kami bukan sekadar setiap sekolah memiliki perangkat digital. Yang lebih penting adalah perangkat tersebut benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Kami ingin guru semakin cakap secara digital dan anak-anak semakin mampu menggunakan teknologi secara kritis, kreatif, aman dan bertanggung jawab.
Yang paling penting, teknologi jangan sampai menggantikan peran guru. Justru teknologi harus membuat guru semakin kuat dan proses pembelajaran menjadi semakin menarik.
Kami juga ingin teknologi menjadi jembatan yang dapat memperkecil kesenjangan antara sekolah di perkotaan dan sekolah di pelosok.
Dengan demikian, digitalisasi pendidikan tidak hanya berbicara tentang perangkat dan jaringan, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperluas kesempatan belajar dan meningkatkan mutu pendidikan bagi seluruh anak di Kabupaten Landak. (Bersambung ke Bagian III)















