NGABANG, LANDAK NEWS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Landak memprioritaskan keselamatan dan perlindungan pemukiman warga dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Dusun Pampang, Kecamatan Sengah Temila.
Kepala BPBD Kabupaten Landak, Stefanus Suseno Caroko Hadi, ST, mengatakan kebakaran yang terjadi di wilayah tersebut cukup besar dan lokasinya berada tidak jauh dari kawasan pemukiman warga.
“Kami selalu berkoordinasi dengan para kepala dusun untuk menggerakkan warga agar tetap turut menjaga wilayahnya. Bahkan, Ibu Bupati memberikan bantuan tandon sebagai tempat penampungan air untuk estafet, mengingat sumber air cukup jauh,” ujar Suseno.
Menurutnya, petugas di lapangan tidak selalu dapat memadamkan seluruh titik api sekaligus. Karena itu, upaya penanganan lebih diarahkan untuk mengendalikan api serta memastikan pemukiman warga tetap aman.
“Kami tidak bisa memadamkan api semuanya, tetapi kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengamankan pemukiman warga,” katanya.
Perhatikan Kondisi Petugas di Lapangan
Suseno juga menyampaikan bahwa hasil rapat Satgas Karhutla menghasilkan sejumlah masukan, termasuk dari Dinas Kesehatan Kabupaten Landak terkait kondisi kesehatan dan stamina petugas yang bekerja di lapangan.
Hal tersebut dinilai penting karena petugas sering bekerja hingga larut malam, bahkan baru kembali ke posko ketika matahari mulai terbit.
“Karena jam berapa pun ke Pampang, pulangnya pasti pagi hari. Matahari sudah terbit, baru kawan-kawan sampai ke posko,” ungkapnya.
Untuk mendukung kondisi petugas, Dinas Kesehatan Kabupaten Landak memberikan vitamin serta melakukan pemeriksaan tekanan darah di posko. Sementara itu, Dinas Sosial turut memberikan dukungan logistik bagi personel yang bertugas di lapangan.
“Supaya stamina kita tetap baik saat bertugas di lapangan. Kita bukan hanya bekerja memadamkan api, tetapi juga menjaga keselamatan teman-teman yang bertugas di lapangan,” tegas Suseno.
Penanganan Berdasarkan Skala Prioritas
Lebih lanjut, Suseno menjelaskan bahwa setiap kejadian karhutla yang dilaporkan akan dianalisis untuk menentukan skala prioritas penanganan.
“Setiap kejadian di lapangan, misalnya kejadian di Pampang maupun di tempat lain, kami analisis mana yang menjadi skala prioritas,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan Satgas Karhutla membuat pembagian tugas dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi. Sementara di lokasi lain, penanganan juga melibatkan relawan serta unsur TNI dan Polri.
“Karena ada satgas, pendistribusian tugas pasti ada. Di tempat kejadian kebakaran lain juga ada teman-teman relawan, TNI dan Polri yang membantu,” katanya.
Peralatan Masih Memadai, Selang Jadi Kendala
Ketika ditanya mengenai kesiapan peralatan BPBD Kabupaten Landak, Suseno mengatakan secara umum peralatan yang digunakan petugas di lapangan masih memadai.
Namun, kondisi geografis dan jarak sumber air menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla.
“Untuk peralatan kawan-kawan di lapangan sampai saat ini masih memadai. Tetapi ini tergantung kondisi lapangan. Jika sumber air jauh, maka kita kekurangan selang,” jelasnya.
Ia mengatakan pompa air yang dimiliki BPBD relatif mencukupi. Namun, selang menjadi salah satu peralatan penting, terutama ketika lokasi kebakaran berada di kawasan perbukitan atau hutan yang jauh dari sumber air.
“Kalau kita punya pompa cukup. Selang merupakan peranan utama. Kejadian banyak di daerah pegunungan dan hutan yang jauh dari sumber air. Maka masukan kemarin dari Bupati, kita mendapat bantuan penampung air untuk estafet. Karena kemarin selang sepanjang 800 meter tidak mampu naik,” ungkap Suseno.
Imbau Masyarakat Tidak Membakar Lahan
Suseno berharap kondisi kabut asap akibat karhutla segera berakhir sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
Ia menegaskan, penanganan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi membutuhkan peran aktif masyarakat dalam menjaga wilayah masing-masing.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, baik secara spiritual maupun upaya lainnya. Masyarakat juga harus menjaga desanya masing-masing,” katanya.
Ia menambahkan, Bupati Landak telah mengeluarkan instruksi, sementara pemerintah kecamatan dan desa juga didorong membentuk posko sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi kebakaran.
“Minimal posko ini menyadarkan masyarakat untuk menjaga wilayah masing-masing. Yang terpenting adalah menahan diri untuk tidak membakar lahan,” pungkasnya. (oNe)














